<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>· ♬ ·</title>
    <link>https://tequilovve.writeas.com/</link>
    <description>I Write Fics, Not Tragedies</description>
    <pubDate>Sat, 20 Jun 2026 14:48:38 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>My Dear, My Angel</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/my-dear-my-angel?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  🌪🎵 | StormNote&#xA;&#xA;“Bim, apa masih lama? Kita udah di sini berjam-jam.”&#xA;&#xA;“Sebentar lagi, Yud. Tadi bukannya kamu sendiri yang pengen ikut?” Bima melirik Yudistira sebelum kembali menekuni buku sketsanya.&#xA;&#xA;“Iya, soalnya aku suka nemenin kamu ngelukis, tapi ini udah mulai mendung, kita pulang aja.” Setelah memasukkan sisa makanan ke dalam tas bekal yang ia bawa, Yudistira beranjak mendekati Bima yang tengah duduk bersandar pada sebatang pohon.&#xA;&#xA;Sebelum Yudistira sempat mengintip, Bima menutup bukunya dengan cepat. “Oke, ayo kita pulang.”&#xA;&#xA;“Biiim.” Yudistira cemberut. “Aku mau lihat dulu apa yang kamu gambar.”&#xA;&#xA;“Eits, jangan, aku nggak mau nanti kamu marah.”&#xA;&#xA;“Kenapa aku harus marah?”!--more--&#xA;&#xA;“Soalnya aku ... ngegambar seseorang yang narik perhatianku,” jawab Bima, menghindari kontak mata dengan yang lebih muda.&#xA;&#xA;“Hah?” Yudistira melihat sekeliling taman tempat keduanya berada saat ini. “Yang mana? Coba aku lihat!” Ia kembali menatap Bima, mengambil buku sketsa di tangan laki-laki itu untuk mencari karya terbarunya.&#xA;&#xA;Yang ditemukannya adalah seorang pemuda yang sedang duduk bersila di rumput, tersenyum dengan wajah sedikit menengadah memandang daun yang berguguran. “Lho, ini kan aku?”&#xA;&#xA;“Ya iya lah, emangnya ada lagi yang narik perhatianku selain kamu?” Bima menyahut.&#xA;&#xA;“Nyebelin,” ucap Yudistira. Sedikit tersipu, ia mengembalikan buku sketsa itu pada pemiliknya.&#xA;&#xA;“Apa kubilang, kamu pasti marah. Nggak usah cemburu, Yud, kalian sama-sama cantik kok,” goda Bima.&#xA;&#xA;“Berisik.” Yudistira memalingkan muka.&#xA;&#xA;Bima tertawa. “Yud, hei.”&#xA;&#xA;Yang dipanggil pura-pura tidak mendengar.&#xA;&#xA;“Yudis. Yudistira, cantikku, sayangku, kue kleponku, kacang hijauku, matcha lat—”&#xA;&#xA;Kali ini Yudistira menoleh. “Bisa diem nggak?”&#xA;&#xA;“Bisa, tapi bantuin dulu, kelamaan duduk bikin kakiku kebas.” Bima mengulurkan tangan.&#xA;&#xA;Meski menggerutu, Yudistira tetap meraih tangan Bima, berniat membantunya untuk bangun. Ia memekik ketika tiba-tiba Bima menariknya dengan cukup kuat hingga terjatuh.&#xA;&#xA;Yudistira menopang tubuhnya dengan kedua lutut serta satu tangan. “Bim, pelan-pelan! Kenapa kamu nammph ....”&#xA;&#xA;Tanpa menunggu kalimatnya selesai, Bima meletakkan tangannya di tengkuk Yudistira dan  membawanya mendekat, mengeliminasi jarak hingga bibir mereka bertemu. Bibir Yudistira selalu terasa lembut dan manis, mencuri satu kecupan saja tidak akan membuatnya puas.&#xA;&#xA;Sadar jika sedang berada di ruang publik, dengan berat hati Bima pun menyudahi ciuman mereka. Tersenyum lebar, ia berkata, “Dari dulu aku pengen ngelakuin itu, kayak di manga yang pernah aku baca.”&#xA;&#xA;“You stupid giant.” Yudistira memukul lengan Bima, masih dengan semburat merah muda di kedua pipinya.&#xA;&#xA;“Your stupid giant.”&#xA;&#xA;“Diem.”&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;/div&#xA;&#xA;“Bim ... udah selesai?”&#xA;&#xA;Bima menengok ke arah Yudistira. “Kamu capek? Kita balik sekarang ya. Tunggu, aku beresin ....”&#xA;&#xA;“Nggak.” Yudistira menggeleng, menarik lengan sweater tipisnya hingga hanya ujung-ujung jarinya saja yang terlihat. “Nggak capek kok, aku cuma nanya aja.”&#xA;&#xA;“Kamu yakin?”&#xA;&#xA;“Iya. Terusin gambarnya, aku mau lihat hasilnya.”&#xA;&#xA;Membuka jaket yang dikenakannya, Bima memakaikannya dengan hati-hati pada Yudistira. Perbedaan ukuran tubuh keduanya yang cukup jauh membuat kekasihnya seolah tenggelam dalam balutan kulit sintetis itu. “Anginnya lumayan kenceng, jangan sampe kamu menggigil nanti.”&#xA;&#xA;“Tapi kamu gimana?”&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa, aku jadi punya alasan buat meluk kamu kalo aku ngerasa kedinginan.” Bima terkekeh, mengecup puncak kepala Yudistira sebelum melanjutkan pekerjaannya.&#xA;&#xA;“Apa objek lukisan kamu kali ini? Bukan aku, kan?”&#xA;&#xA;“Apaan, sebelum kita nyampe ke sini aja kamu udah ngelarang aku gambar kamu.” Bima berpura-pura kesal, tapi tidak bertahan lama, karena sesaat kemudian ia mendengar Yudistira tergelak.&#xA;&#xA;“Aku nggak ngerti kenapa kamu suka banget ngegambar aku, Bim.”&#xA;&#xA;“Aku juga nggak ngerti kenapa kamu suka banget lihat aku ngelukis,” balas Bima.&#xA;&#xA;“Soalnya ... apa ya, menyenangkan aja lihat orang yang aku suka ngelakuin hal yang dia suka, ngerti nggak?”&#xA;&#xA;Berpaling dari kanvas, Bima mengalihkan seluruh perhatiannya pada Yudistira.&#xA;&#xA;Ia melanjutkan, “Gimana ya jelasinnya ... tiap lihat kamu fokus ngelakuin sesuatu yang memang jadi passion-mu, ada perasaan yang susah diungkapin, rasa yang bikin aku pengen terus lihat kamu kayak gitu dan pengen nyimpen semua momen itu di ingatanku, sebanyak-banyaknya, selama-lamanya.”&#xA;&#xA;“Yud,” panggil Bima, suaranya bergetar.&#xA;&#xA;“Hahaha, maaf, omonganku ngelantur.” Yudistira mendongak dan menghembuskan napas panjang. “Langitnya bagus ... Bim, kapan-kapan buatin aku lukisan langit ya.”&#xA;&#xA;Tertegun sejenak, Bima menghampiri Yudistira yang duduk di bangku panjang lalu berlutut di hadapannya.&#xA;&#xA;“Eh?” Yudistira mengalihkan pandangannya pada lelaki itu. “Ada apa?” tanyanya kebingungan. Mata zamrudnya mengerjap.&#xA;&#xA;Bima tidak menjawab. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yudistira dan membenamkan wajah di ceruk lehernya.&#xA;&#xA;“Kamu mulai kedinginan ya? Kasian banget ubi unguku.” Yudistira membelai rambut Bima perlahan, membuat pelukan yang ia terima bertambah erat.&#xA;&#xA;“Yudistira Yogendra, aku sayang kamu,” Bima berbisik lirih.&#xA;&#xA;“Aku tau. Aku juga sayang kamu, Bima Bayusena.”&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;/div&#xA;&#xA;“Bim.”&#xA;&#xA;Bima tersenyum kala melihat Yudistira. “Duduk di situ, Yud.” Ia menunjuk kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.&#xA;&#xA;Yudistira menurut. “Ngapain di atap?”&#xA;&#xA;“Hari ini cuacanya bagus. Langitnya keliatan indah, jadi aku coba lukis buat kamu, kayak yang kamu mau.”&#xA;&#xA;“Beneran? Makasih banyak!” Yudistira tersenyum, matanya membentuk dua bulan sabit yang manis.&#xA;&#xA;Bima terpaku, seakan terhipnotis oleh pesona sang pujaan hati.&#xA;&#xA;“Aku udah pernah bilang belum sih, kalo aku ngerasa beruntung banget bisa jadi orang yang spesial buat kamu?” sambung Yudistira, nada suaranya menjadi lebih lembut. “Makasih udah milih aku. Di kehidupan berikutnya, jadiin aku pacar kamu lagi ya, Bim.”&#xA;&#xA;“Yud, aku ... aku ....”&#xA;&#xA;“Oi, Bim!” sebuah suara memaksa Bima menengok ke bawah. Sadewa, tetangganya, melambaikan tangan dari depan rumah. “Ngelukis lagi?” tanya lelaki yang lebih tua.&#xA;&#xA;“Iya, Mas.” Bima mengangguk.&#xA;&#xA;Sadewa mengacungkan jempolnya. “Bikin gambar yang bagus. Oh, kalau ada yang nyari, bilang saya lagi pergi mancing dulu ya,” pesannya sebelum menjauh.&#xA;&#xA;Saat Bima menoleh kembali pada Yudistira, ia tak menemukan sosoknya lagi di sana. Yang ada hanya sebuah kotak, tergeletak di kursi yang sebelumnya Yudistira tempati.&#xA;&#xA;“Ah.” Terdiam sebentar, Bima menarik napas dalam-dalam kemudian mengambil kuasnya. “Oke, aku bakal nyelesaiin ini.”&#xA;&#xA;Beberapa jam berlalu. Bima menatap hasil karyanya dengan puas. “Udah selesai. Kamu suka nggak, Yud?” Ia mendongak, merasakan hembusan angin menerpa rambut ungunya.&#xA;&#xA;Dengan pelan laki-laki itu berjalan untuk mengambil kotak yang ada di kursi lalu membukanya.&#xA;&#xA;Sebuah pena serta botol tinta pemberian Yudistira beberapa tahun yang lalu. Hadiah pertama dari sang kekasih, jauh sebelum dirinya menjadi ilustrator seperti sekarang.&#xA;&#xA;Air mata meluncur turun membasahi pipi Bima, namun bibirnya membentuk seulas senyum. “I miss you ... ada banyak hal yang pengen aku sampein sama kamu, Yud. Kamu suka lihat aku ngelukis, kan? Aku sengaja ngelukis di sini, biar kamu bisa lihat aku dari atas sana.” Bima kembali memandang ke langit.&#xA;&#xA;“Meski aku nggak bisa ngomong sama kamu secara langsung, aku yakin kamu tau apa yang aku rasain. Aku nggak akan berhenti mencintai kamu, Yud, selamanya.”&#xA;&#xA;Dengan pena di tangan, Bima menuliskan sebaris kalimat di sudut bawah lukisan langitnya.&#xA;&#xA;For an angel with emerald eyes ... see you in another life.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>🌪🎵 | StormNote</p></blockquote>

<p>“Bim, apa masih lama? Kita udah di sini berjam-jam.”</p>

<p>“Sebentar lagi, Yud. Tadi bukannya kamu sendiri yang pengen ikut?” Bima melirik Yudistira sebelum kembali menekuni buku sketsanya.</p>

<p>“Iya, soalnya aku suka nemenin kamu ngelukis, tapi ini udah mulai mendung, kita pulang aja.” Setelah memasukkan sisa makanan ke dalam tas bekal yang ia bawa, Yudistira beranjak mendekati Bima yang tengah duduk bersandar pada sebatang pohon.</p>

<p>Sebelum Yudistira sempat mengintip, Bima menutup bukunya dengan cepat. “Oke, ayo kita pulang.”</p>

<p>“Biiim.” Yudistira cemberut. “Aku mau lihat dulu apa yang kamu gambar.”</p>

<p>“Eits, jangan, aku nggak mau nanti kamu marah.”</p>

<p>“Kenapa aku harus marah?”</p>

<p>“Soalnya aku ... ngegambar seseorang yang narik perhatianku,” jawab Bima, menghindari kontak mata dengan yang lebih muda.</p>

<p>“Hah?” Yudistira melihat sekeliling taman tempat keduanya berada saat ini. “Yang mana? Coba aku lihat!” Ia kembali menatap Bima, mengambil buku sketsa di tangan laki-laki itu untuk mencari karya terbarunya.</p>

<p>Yang ditemukannya adalah seorang pemuda yang sedang duduk bersila di rumput, tersenyum dengan wajah sedikit menengadah memandang daun yang berguguran. “Lho, ini kan aku?”</p>

<p>“Ya iya lah, emangnya ada lagi yang narik perhatianku selain kamu?” Bima menyahut.</p>

<p>“Nyebelin,” ucap Yudistira. Sedikit tersipu, ia mengembalikan buku sketsa itu pada pemiliknya.</p>

<p>“Apa kubilang, kamu pasti marah. Nggak usah cemburu, Yud, kalian sama-sama cantik kok,” goda Bima.</p>

<p>“Berisik.” Yudistira memalingkan muka.</p>

<p>Bima tertawa. “Yud, hei.”</p>

<p>Yang dipanggil pura-pura tidak mendengar.</p>

<p>“Yudis. Yudistira, cantikku, sayangku, kue kleponku, kacang hijauku, matcha lat—”</p>

<p>Kali ini Yudistira menoleh. “Bisa diem nggak?”</p>

<p>“Bisa, tapi bantuin dulu, kelamaan duduk bikin kakiku kebas.” Bima mengulurkan tangan.</p>

<p>Meski menggerutu, Yudistira tetap meraih tangan Bima, berniat membantunya untuk bangun. Ia memekik ketika tiba-tiba Bima menariknya dengan cukup kuat hingga terjatuh.</p>

<p>Yudistira menopang tubuhnya dengan kedua lutut serta satu tangan. “Bim, pelan-pelan! Kenapa kamu nammph ....”</p>

<p>Tanpa menunggu kalimatnya selesai, Bima meletakkan tangannya di tengkuk Yudistira dan  membawanya mendekat, mengeliminasi jarak hingga bibir mereka bertemu. Bibir Yudistira selalu terasa lembut dan manis, mencuri satu kecupan saja tidak akan membuatnya puas.</p>

<p>Sadar jika sedang berada di ruang publik, dengan berat hati Bima pun menyudahi ciuman mereka. Tersenyum lebar, ia berkata, “Dari dulu aku pengen ngelakuin itu, kayak di <em>manga</em> yang pernah aku baca.”</p>

<p>“<em>You stupid giant</em>.” Yudistira memukul lengan Bima, masih dengan semburat merah muda di kedua pipinya.</p>

<p>“<strong><em>Your</em></strong> <em>stupid giant.</em>”</p>

<p>“Diem.”</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">*</div>

<p>“Bim ... udah selesai?”</p>

<p>Bima menengok ke arah Yudistira. “Kamu capek? Kita balik sekarang ya. Tunggu, aku beresin ....”</p>

<p>“Nggak.” Yudistira menggeleng, menarik lengan <em>sweater</em> tipisnya hingga hanya ujung-ujung jarinya saja yang terlihat. “Nggak capek kok, aku cuma nanya aja.”</p>

<p>“Kamu yakin?”</p>

<p>“Iya. Terusin gambarnya, aku mau lihat hasilnya.”</p>

<p>Membuka jaket yang dikenakannya, Bima memakaikannya dengan hati-hati pada Yudistira. Perbedaan ukuran tubuh keduanya yang cukup jauh membuat kekasihnya seolah tenggelam dalam balutan kulit sintetis itu. “Anginnya lumayan kenceng, jangan sampe kamu menggigil nanti.”</p>

<p>“Tapi kamu gimana?”</p>

<p>“Nggak apa-apa, aku jadi punya alasan buat meluk kamu kalo aku ngerasa kedinginan.” Bima terkekeh, mengecup puncak kepala Yudistira sebelum melanjutkan pekerjaannya.</p>

<p>“Apa objek lukisan kamu kali ini? Bukan aku, kan?”</p>

<p>“Apaan, sebelum kita nyampe ke sini aja kamu udah ngelarang aku gambar kamu.” Bima berpura-pura kesal, tapi tidak bertahan lama, karena sesaat kemudian ia mendengar Yudistira tergelak.</p>

<p>“Aku nggak ngerti kenapa kamu suka banget ngegambar aku, Bim.”</p>

<p>“Aku juga nggak ngerti kenapa kamu suka banget lihat aku ngelukis,” balas Bima.</p>

<p>“Soalnya ... apa ya, menyenangkan aja lihat orang yang aku suka ngelakuin hal yang dia suka, ngerti nggak?”</p>

<p>Berpaling dari kanvas, Bima mengalihkan seluruh perhatiannya pada Yudistira.</p>

<p>Ia melanjutkan, “Gimana ya jelasinnya ... tiap lihat kamu fokus ngelakuin sesuatu yang memang jadi <em>passion</em>-mu, ada perasaan yang susah diungkapin, rasa yang bikin aku pengen terus lihat kamu kayak gitu dan pengen nyimpen semua momen itu di ingatanku, sebanyak-banyaknya, selama-lamanya.”</p>

<p>“Yud,” panggil Bima, suaranya bergetar.</p>

<p>“Hahaha, maaf, omonganku ngelantur.” Yudistira mendongak dan menghembuskan napas panjang. “Langitnya bagus ... Bim, kapan-kapan buatin aku lukisan langit ya.”</p>

<p>Tertegun sejenak, Bima menghampiri Yudistira yang duduk di bangku panjang lalu berlutut di hadapannya.</p>

<p>“Eh?” Yudistira mengalihkan pandangannya pada lelaki itu. “Ada apa?” tanyanya kebingungan. Mata zamrudnya mengerjap.</p>

<p>Bima tidak menjawab. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yudistira dan membenamkan wajah di ceruk lehernya.</p>

<p>“Kamu mulai kedinginan ya? Kasian banget ubi unguku.” Yudistira membelai rambut Bima perlahan, membuat pelukan yang ia terima bertambah erat.</p>

<p>“Yudistira Yogendra, aku sayang kamu,” Bima berbisik lirih.</p>

<p>“Aku tau. Aku juga sayang kamu, Bima Bayusena.”</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">*</div>

<p>“Bim.”</p>

<p>Bima tersenyum kala melihat Yudistira. “Duduk di situ, Yud.” Ia menunjuk kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.</p>

<p>Yudistira menurut. “Ngapain di atap?”</p>

<p>“Hari ini cuacanya bagus. Langitnya keliatan indah, jadi aku coba lukis buat kamu, kayak yang kamu mau.”</p>

<p>“Beneran? Makasih banyak!” Yudistira tersenyum, matanya membentuk dua bulan sabit yang manis.</p>

<p>Bima terpaku, seakan terhipnotis oleh pesona sang pujaan hati.</p>

<p>“Aku udah pernah bilang belum sih, kalo aku ngerasa beruntung banget bisa jadi orang yang spesial buat kamu?” sambung Yudistira, nada suaranya menjadi lebih lembut. “Makasih udah milih aku. Di kehidupan berikutnya, jadiin aku pacar kamu lagi ya, Bim.”</p>

<p>“Yud, aku ... aku ....”</p>

<p>“Oi, Bim!” sebuah suara memaksa Bima menengok ke bawah. Sadewa, tetangganya, melambaikan tangan dari depan rumah. “Ngelukis lagi?” tanya lelaki yang lebih tua.</p>

<p>“Iya, Mas.” Bima mengangguk.</p>

<p>Sadewa mengacungkan jempolnya. “Bikin gambar yang bagus. Oh, kalau ada yang nyari, bilang saya lagi pergi mancing dulu ya,” pesannya sebelum menjauh.</p>

<p>Saat Bima menoleh kembali pada Yudistira, ia tak menemukan sosoknya lagi di sana. Yang ada hanya sebuah kotak, tergeletak di kursi yang sebelumnya Yudistira tempati.</p>

<p>“Ah.” Terdiam sebentar, Bima menarik napas dalam-dalam kemudian mengambil kuasnya. “Oke, aku bakal nyelesaiin ini.”</p>

<p>Beberapa jam berlalu. Bima menatap hasil karyanya dengan puas. “Udah selesai. Kamu suka nggak, Yud?” Ia mendongak, merasakan hembusan angin menerpa rambut ungunya.</p>

<p>Dengan pelan laki-laki itu berjalan untuk mengambil kotak yang ada di kursi lalu membukanya.</p>

<p>Sebuah pena serta botol tinta pemberian Yudistira beberapa tahun yang lalu. Hadiah pertama dari sang kekasih, jauh sebelum dirinya menjadi ilustrator seperti sekarang.</p>

<p>Air mata meluncur turun membasahi pipi Bima, namun bibirnya membentuk seulas senyum. “<em>I miss you</em> ... ada banyak hal yang pengen aku sampein sama kamu, Yud. Kamu suka lihat aku ngelukis, kan? Aku sengaja ngelukis di sini, biar kamu bisa lihat aku dari atas sana.” Bima kembali memandang ke langit.</p>

<p>“Meski aku nggak bisa ngomong sama kamu secara langsung, aku yakin kamu tau apa yang aku rasain. Aku nggak akan berhenti mencintai kamu, Yud, selamanya.”</p>

<p>Dengan pena di tangan, Bima menuliskan sebaris kalimat di sudut bawah lukisan langitnya.</p>

<p><em>For an angel with emerald eyes ... see you in another life.</em></p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/my-dear-my-angel</guid>
      <pubDate>Tue, 16 Jun 2026 17:10:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>✨🎵 | SparkNote</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/sparknote?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  ✨🎵 | SparkNote&#xA;&#xA;Apartemen yang dikunjungi Yudistira siang itu tampak kosong, namun ia tahu pasti di mana orang yang dicarinya berada. Sambil bersenandung kecil, ia berjalan dengan santai menuju ke salah satu ruangan. Tanpa mengetuk lebih dulu, pemuda itu membuka pintu. “Halooo!” serunya riang.&#xA;&#xA;“Shibal sekk—” Eray memutar kursi yang didudukinya, menatap Yudistira dengan mata membulat. “Yudis ... astaga, ngagetin aja. Pintu itu diciptakan untuk diketuk, Manisku.”&#xA;&#xA;“Salah, pintu itu diciptakan untuk dibuka. Lagian kalo aku langsung masuk, kan kau bisa terciduk kalo lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh.” Yudistira menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Eray kemudian mencium pipi lelaki yang lebih tua.&#xA;&#xA;“Hal aneh apa? Nggak mungkin lah.” Secara otomatis kedua tangan Eray melingkar di pinggang Yudistira, menahannya agar tidak jatuh. Tersenyum, ia menatap paras cantik itu. “Tumben dateng ke sini? Tau ya kalo aku lagi kangen?”!--more--&#xA;&#xA;“Bohong, kangen apa? Mana ada kangen tapi nggak nemuin aku? Malah aku yang nyamperin,” protes Yudistira.&#xA;&#xA;Sepertinya di mata Eray, Yudistira semakin terlihat memikat ketika cemberut begitu, karena ia hanya terkekeh dan memeluk pinggang ramping sang kekasih lebih erat.&#xA;&#xA;“Malah cengengesan, aku marah lho ini.”&#xA;&#xA;“Maaf. Kerjaanku lagi banyak banget, nggak bisa ditinggal. Pengen cepet aku beresin biar bisa cepet ngabisin waktu sama kamu,” Eray coba memberi alasan mengapa dirinya tidak bisa sering menghubungi Yudistira belakangan ini.&#xA;&#xA;Yudistira terdiam. Lelaki kesayangannya itu memang terlihat lelah. Perlahan ia mengusap bayangan hitam di bawah mata Eray dengan ibu jari kemudian menangkup pipinya. “Kau kurang tidur ya?”&#xA;&#xA;“Hm ... mungkin?” Eray meraih tangan Yudistira, mengecup telapaknya sekilas sebelum kembali menempelkannya di pipi. “Jangan khawatir, masih aku sempetin istirahat, sesekali bangun juga, jalan-jalan ke luar sebentar, nggak stuck duduk terus-terusan di sini.”&#xA;&#xA;“Nggak percaya, kau itu kalo udah kerja suka terlalu fokus. Tadi aja kau sampe nggak tau kan kalo aku dateng? Kalo yang masuk orang jahat gimana?” Yudistira mengomel lagi.&#xA;&#xA;“Yang tau password apartemenku cuma kamu sama anak-anak.”&#xA;&#xA;“Maling jaman sekarang kan udah canggih-canggih.”&#xA;&#xA;“Ini juga maling nih.” Kali ini kecupan Eray mendarat di ujung hidung Yudistira. “Maling hatiku,” sambungnya.&#xA;&#xA;Yudistira memutar bola matanya. “Malas, aku pulang aja.”&#xA;&#xA;“Jangan! Belum puas melepas rindu.”&#xA;&#xA;“Makin malas aku. Udah makan belum?”&#xA;&#xA;“Udah, sarapan telur ceplok tadi.”&#xA;&#xA;“Sarapan?” Yudistira terbelalak. “Baru sarapan? Ini udah jam dua, kau belum makan apa-apa lagi?”&#xA;&#xA;“Be ... lum? Tapi aku minum banyak, jadi nggak dehidrasi, aman.”&#xA;&#xA;“Aman, aman, cuma minum tapi nggak makan, kembung yang ada, emangnya kau sapi gelonggongan?” Yudistira melotot ketika Eray tergelak mendengar ucapannya. “Nggak usah ketawa, ayo makan, nanti sakit. Kerjaannya ditunda dulu sebentar, sekarang istirahat.”&#xA;&#xA;“Ini lagi istirahat.” Eray menarik Yudistira lebih dekat, menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. “You&#39;re my personal charger, my mood booster, my emotional support, my my my apalah itu, pokoknya you&#39;re mine.”&#xA;&#xA;Yudistira tertawa kecil. “Oke, tapi kau tetep harus makan. Ayo,” ajaknya.&#xA;&#xA;“Makan kamu?”&#xA;&#xA;“Makan beneran ya, Eyang Syukri!”&#xA;&#xA;“Heh, apaan manggilnya gitu.” Eray menjentik kening Yudistira, tentunya tidak dengan kekuatan penuh.&#xA;&#xA;“Ya abisnya kau ngeyel. Mau keluar atau pesen online?”&#xA;&#xA;“Online aja, kamu makan juga ya, temenin aku, kalo nggak aku nggak mau nih,” ancam Eray main-main. “Kamu yang pilih, pesen apa yang kamu suka.”&#xA;&#xA;“Iya, tapi gendong ke sofa dulu,” pinta Yudistira sembari mengalungkan tangannya di leher Eray.&#xA;&#xA;“Aduh, aku mau ... tapi nggak bisa, pinggang sama punggungku agak sakit gara-gara duduk dari tadi.” Eray memberi Yudistira tatapan memelas. “Kalo aku gendong takut malah kamunya jatuh dan aku salah urat.”&#xA;&#xA;“Halah, emang dasar jompo. Aku lho mau manja-manjaan jadi gagal,” Yudistira bersungut-sungut.&#xA;&#xA;“Maaf, Maniskuuu ....”&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>✨🎵 | SparkNote</p></blockquote>

<p>Apartemen yang dikunjungi Yudistira siang itu tampak kosong, namun ia tahu pasti di mana orang yang dicarinya berada. Sambil bersenandung kecil, ia berjalan dengan santai menuju ke salah satu ruangan. Tanpa mengetuk lebih dulu, pemuda itu membuka pintu. “Halooo!” serunya riang.</p>

<p>“<em>Shibal sekk</em>—” Eray memutar kursi yang didudukinya, menatap Yudistira dengan mata membulat. “Yudis ... astaga, ngagetin aja. Pintu itu diciptakan untuk diketuk, Manisku.”</p>

<p>“Salah, pintu itu diciptakan untuk dibuka. Lagian kalo aku langsung masuk, kan kau bisa terciduk kalo lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh.” Yudistira menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Eray kemudian mencium pipi lelaki yang lebih tua.</p>

<p>“Hal aneh apa? Nggak mungkin lah.” Secara otomatis kedua tangan Eray melingkar di pinggang Yudistira, menahannya agar tidak jatuh. Tersenyum, ia menatap paras cantik itu. “Tumben dateng ke sini? Tau ya kalo aku lagi kangen?”</p>

<p>“Bohong, kangen apa? Mana ada kangen tapi nggak nemuin aku? Malah aku yang nyamperin,” protes Yudistira.</p>

<p>Sepertinya di mata Eray, Yudistira semakin terlihat memikat ketika cemberut begitu, karena ia hanya terkekeh dan memeluk pinggang ramping sang kekasih lebih erat.</p>

<p>“Malah cengengesan, aku marah lho ini.”</p>

<p>“Maaf. Kerjaanku lagi banyak banget, nggak bisa ditinggal. Pengen cepet aku beresin biar bisa cepet ngabisin waktu sama kamu,” Eray coba memberi alasan mengapa dirinya tidak bisa sering menghubungi Yudistira belakangan ini.</p>

<p>Yudistira terdiam. Lelaki kesayangannya itu memang terlihat lelah. Perlahan ia mengusap bayangan hitam di bawah mata Eray dengan ibu jari kemudian menangkup pipinya. “Kau kurang tidur ya?”</p>

<p>“Hm ... mungkin?” Eray meraih tangan Yudistira, mengecup telapaknya sekilas sebelum kembali menempelkannya di pipi. “Jangan khawatir, masih aku sempetin istirahat, sesekali bangun juga, jalan-jalan ke luar sebentar, nggak <em>stuck</em> duduk terus-terusan di sini.”</p>

<p>“Nggak percaya, kau itu kalo udah kerja suka terlalu fokus. Tadi aja kau sampe nggak tau kan kalo aku dateng? Kalo yang masuk orang jahat gimana?” Yudistira mengomel lagi.</p>

<p>“Yang tau <em>password</em> apartemenku cuma kamu sama anak-anak.”</p>

<p>“Maling jaman sekarang kan udah canggih-canggih.”</p>

<p>“Ini juga maling nih.” Kali ini kecupan Eray mendarat di ujung hidung Yudistira. “Maling hatiku,” sambungnya.</p>

<p>Yudistira memutar bola matanya. “Malas, aku pulang aja.”</p>

<p>“Jangan! Belum puas melepas rindu.”</p>

<p>“Makin malas aku. Udah makan belum?”</p>

<p>“Udah, sarapan telur ceplok tadi.”</p>

<p>“Sarapan?” Yudistira terbelalak. “Baru sarapan? Ini udah jam dua, kau belum makan apa-apa lagi?”</p>

<p>“Be ... lum? Tapi aku minum banyak, jadi nggak dehidrasi, aman.”</p>

<p>“Aman, aman, cuma minum tapi nggak makan, kembung yang ada, emangnya kau sapi gelonggongan?” Yudistira melotot ketika Eray tergelak mendengar ucapannya. “Nggak usah ketawa, ayo makan, nanti sakit. Kerjaannya ditunda dulu sebentar, sekarang istirahat.”</p>

<p>“Ini lagi istirahat.” Eray menarik Yudistira lebih dekat, menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. “<em>You&#39;re my personal charger, my mood booster, my emotional support, my my my</em> apalah itu, pokoknya <em>you&#39;re mine</em>.”</p>

<p>Yudistira tertawa kecil. “Oke, tapi kau tetep harus makan. Ayo,” ajaknya.</p>

<p>“Makan kamu?”</p>

<p>“Makan beneran ya, Eyang Syukri!”</p>

<p>“Heh, apaan manggilnya gitu.” Eray menjentik kening Yudistira, tentunya tidak dengan kekuatan penuh.</p>

<p>“Ya abisnya kau <em>ngeyel</em>. Mau keluar atau pesen <em>online</em>?”</p>

<p>“<em>Online</em> aja, kamu makan juga ya, temenin aku, kalo nggak aku nggak mau nih,” ancam Eray main-main. “Kamu yang pilih, pesen apa yang kamu suka.”</p>

<p>“Iya, tapi gendong ke sofa dulu,” pinta Yudistira sembari mengalungkan tangannya di leher Eray.</p>

<p>“Aduh, aku mau ... tapi nggak bisa, pinggang sama punggungku agak sakit gara-gara duduk dari tadi.” Eray memberi Yudistira tatapan memelas. “Kalo aku gendong takut malah kamunya jatuh dan aku salah urat.”</p>

<p>“Halah, emang dasar jompo. Aku lho mau manja-manjaan jadi gagal,” Yudistira bersungut-sungut.</p>

<p>“Maaf, Maniskuuu ....”</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/sparknote</guid>
      <pubDate>Mon, 25 May 2026 14:41:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Coming Home</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/coming-home?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  🌪🎵 | StormNote&#xA;&#xA;Bima berjalan tertatih menuju rumah kontrakannya. Terdiam sejenak di depan pintu, ia menghirup oksigen dalam-dalam, menegakkan tubuhnya, lalu melangkah masuk.&#xA;&#xA;Keadaan di dalam rumah tampak remang-remang, sumber cahaya hanya berasal dari lampu redup yang ada di ruang tengah. Setelah mengunci pintu, Bima melepaskan ransel dan membuka jaket tebalnya sembari berjalan menuju ke kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.&#xA;&#xA;Dahinya berkerut melihat lampu di kamarnya ternyata masih menyala. Perlahan laki-laki bertubuh menjulang itu membuka pintu. “Yud?” panggilnya setengah berbisik.&#xA;&#xA;Tidak mendengar jawaban apapun, Bima membuka pintu lebih lebar kemudian melangkah ke dalam. “Oh.” Ia menemukan seseorang di sudut ruangan, duduk di kursi dengan kedua tangan yang dilipat di atas meja sebagai pengganti bantal untuk kepalanya.!--more--&#xA;&#xA;“Belajar sampe larut lagi?” gumam Bima. Jemarinya bergerak menyisir helaian surai halus milik sang pemuda. “Yud ... Yudis, bangun. Punggung sama leher kamu bisa sakit kalo tidur dengan posisi kayak gini.”&#xA;&#xA;“Mmm.” Hidung Yudistira mengerut lucu sebelum matanya terbuka sedikit demi sedikit. “Bim?” Ia mengerjap. “Jam berapa ini? Aku ketiduran.”&#xA;&#xA;“Hampir setengah satu. Ayo, pindah ke kasur.” Bima membantu Yudistira bangkit dari kursi dan membawanya ke tempat tidur.&#xA;&#xA;“Nanti ada ujian, aku belum terlalu nguasain materinya.” Yudistira mendongak menatap Bima. “Kalo aku gagal gimana, Bim?”&#xA;&#xA;“Ya nggak apa-apa, yang penting kamu udah belajar giat, udah berusaha sebaik mungkin ... tapi aku yakin kok kalo kamu pasti bisa.” Bima menepuk-nepuk kepala Yudistira. “Sekarang lanjutin tidurnya, aku mau bersih-bersih dulu.”&#xA;&#xA;“Eh, kau udah makan belum? Mau aku gorengin telur atau ....”&#xA;&#xA;“Udah, adek cantik,” potong Bima, terkekeh saat netranya menangkap semburat merah muda di kedua pipi Yudistira. “Aku udah makan tadi. Kamu cepet tidur, nanti malah telat nyiapin sarapan buat aku gara-gara bangun kesiangan,” gurau Bima, namun membuat Yudistira mengangguk patuh.&#xA;&#xA;Setelah memastikan Yudistira berbaring dengan nyaman, Bima mengambil pakaian bersih dari dalam lemari lalu pergi ke kamar mandi. Pelan-pelan ia membuka kaus yang dikenakannya. Menatap ke cermin, lelaki yang berprofesi sebagai petugas keamanan itu menyentuh sisi sebelah kanan dadanya. Ia meringis.&#xA;&#xA;Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. “Bim, maaf, aku kebelet pi—itu kenapa?” Mata Yudistira terbeliak melihat dada Bima yang terbalut perban.&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa, Yud.”&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa gimana? Itu ....”&#xA;&#xA;“Udah sana kamu pipis dulu, nanti aku ceritain.”&#xA;&#xA;Tak kuat menahan rasa ingin buang air kecil, akhirnya Yudistira menurut.&#xA;---&#xA;“Ada maling?” pekik Yudistira terkejut mendengar penuturan Bima ketika keduanya sudah duduk bersebelahan di tempat tidur.&#xA;&#xA;“Iya, untungnya cuma sendirian, aku berhasil ngeringkus dia. Udah diserahin ke kantor polisi juga.”&#xA;&#xA;“Tapi ... terus dadanya ... k-kok bisa?” ucap Yudistira terbata-bata. Sedari tadi tangannya mencengkeram lengan Bima, seolah wira kesayangannya akan menghilang jika ia lepaskan.&#xA;&#xA;“Dia bawa senjata tajam, terus ngelawan. Untung pacar kamu ini muridnya Bruce Lee. Hiyah!” Bima menjawil hidungnya dengan ibu jari, bertingkah layaknya sang legenda bela diri.&#xA;&#xA;“Jangan bercanda, aku gemeter ini.” Fokus Yudistira tertuju pada perban di tubuh Bima yang masih bertelanjang dada.&#xA;&#xA;“Aku baik-baik aja, lagian kan udah ditanganin dokter. Kalo lukanya serius juga aku pasti nggak dibolehin pulang. Yud? Yudis, kok nangis?” Bima panik melihat tubuh Yudistira sedikit bergetar, disusul oleh air mata yang menetes membasahi pipinya.&#xA;&#xA;“Aku takut ... kau bilang kau nggak apa-apa, tapi gimana kalo lain kali kau nggak seberuntung ini? Gimana kalo ... kau luka parah dan nggak ketolong? Gimana jadinya hidupku, Bim?” Yudistira semakin terisak.&#xA;&#xA;“Tiap kerjaan punya risikonya sendiri, Yud. Kerjaanku juga gitu.”&#xA;&#xA;“Tapi kerjaanmu risikonya terlalu besar. Abis ini aku bakal makin waswas, nggak akan bisa tenang nungguin kau pulang tiap malem.”&#xA;&#xA;Tersenyum lembut, Bima merengkuh Yudistira ke dalam dekapannya, berhati-hati untuk menghindari sisi tubuhnya yang terluka. “Jangan khawatir, aku janji bakal berusaha jaga diri baik-baik dan selalu pulang buat kamu ... tapi kamu juga janji ya, kalo suatu saat sesuatu yang buruk terjadi sama aku, kamu harus tetep lanjutin hidupmu.”&#xA;&#xA;“Nggak mau.”&#xA;&#xA;“Yudis.”&#xA;&#xA;“Nggak mau,” ulang Yudistira ditambah dengan gelengan kepala. “Aku cuma punya kamu, aku nggak bisa kalo harus hidup sendirian tanpa kamu, aku ....”&#xA;&#xA;“Yudistira.”&#xA;&#xA;Laki-laki yang lebih muda terdiam.&#xA;&#xA;“Untuk sekarang kita lupain dulu masalah ini. Beberapa jam lagi kamu ada ujian lho, jangan sampe kamu nggak bisa konsentrasi, atau malah nggak bisa ikutan karena telat bangun.” Bima merebahkan tubuhnya, membuat Yudistira yang masih menempel padanya ikut terbaring.&#xA;&#xA;“Aku nggak perlu kerja hari ini, jadi nanti aku bisa jemput kamu, terus kita bisa ke tempat Mas Dewa, minta ajarin bikin kue yang kamu suka itu, tapi sekarang kita istirahat dulu ya.”&#xA;&#xA;Meski raut wajahnya masih tampak sendu, Yudistira mengangguk. “Night, Bim ... Mas.”&#xA;&#xA;Bima tersentak. “Eh? Yudis, bangun dulu sebentar, Yud.”&#xA;&#xA;Yudistira yang baru saja terpejam kembali membuka mata.&#xA;&#xA;“Nggak salah denger kan aku? Bilang apa tadi?”&#xA;&#xA;“Hm?”&#xA;&#xA;“Tadi, kamu panggil aku apa, coba ulang lagi,” pinta Bima.&#xA;&#xA;“Ih.” Yudistira tersipu malu. “Night, Mas,” bisiknya.&#xA;&#xA;“Aduh, tunggu, mana ya handphone-ku? Mau aku rekam ... ouch!”&#xA;&#xA;Yudistira mencubit pinggang Bima sebelum memeluknya lebih erat. “Tidur nggak?”&#xA;&#xA;“Hehehe ... iya, iya, tidur. Night, adek cantik,” balas Bima sebelum mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Yudistira.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>🌪🎵 | StormNote</p></blockquote>

<p>Bima berjalan tertatih menuju rumah kontrakannya. Terdiam sejenak di depan pintu, ia menghirup oksigen dalam-dalam, menegakkan tubuhnya, lalu melangkah masuk.</p>

<p>Keadaan di dalam rumah tampak remang-remang, sumber cahaya hanya berasal dari lampu redup yang ada di ruang tengah. Setelah mengunci pintu, Bima melepaskan ransel dan membuka jaket tebalnya sembari berjalan menuju ke kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.</p>

<p>Dahinya berkerut melihat lampu di kamarnya ternyata masih menyala. Perlahan laki-laki bertubuh menjulang itu membuka pintu. “Yud?” panggilnya setengah berbisik.</p>

<p>Tidak mendengar jawaban apapun, Bima membuka pintu lebih lebar kemudian melangkah ke dalam. “Oh.” Ia menemukan seseorang di sudut ruangan, duduk di kursi dengan kedua tangan yang dilipat di atas meja sebagai pengganti bantal untuk kepalanya.</p>

<p>“Belajar sampe larut lagi?” gumam Bima. Jemarinya bergerak menyisir helaian surai halus milik sang pemuda. “Yud ... Yudis, bangun. Punggung sama leher kamu bisa sakit kalo tidur dengan posisi kayak gini.”</p>

<p>“Mmm.” Hidung Yudistira mengerut lucu sebelum matanya terbuka sedikit demi sedikit. “Bim?” Ia mengerjap. “Jam berapa ini? Aku ketiduran.”</p>

<p>“Hampir setengah satu. Ayo, pindah ke kasur.” Bima membantu Yudistira bangkit dari kursi dan membawanya ke tempat tidur.</p>

<p>“Nanti ada ujian, aku belum terlalu nguasain materinya.” Yudistira mendongak menatap Bima. “Kalo aku gagal gimana, Bim?”</p>

<p>“Ya nggak apa-apa, yang penting kamu udah belajar giat, udah berusaha sebaik mungkin ... tapi aku yakin kok kalo kamu pasti bisa.” Bima menepuk-nepuk kepala Yudistira. “Sekarang lanjutin tidurnya, aku mau bersih-bersih dulu.”</p>

<p>“Eh, kau udah makan belum? Mau aku gorengin telur atau ....”</p>

<p>“Udah, <em>adek cantik</em>,” potong Bima, terkekeh saat netranya menangkap semburat merah muda di kedua pipi Yudistira. “Aku udah makan tadi. Kamu cepet tidur, nanti malah telat nyiapin sarapan buat aku gara-gara bangun kesiangan,” gurau Bima, namun membuat Yudistira mengangguk patuh.</p>

<p>Setelah memastikan Yudistira berbaring dengan nyaman, Bima mengambil pakaian bersih dari dalam lemari lalu pergi ke kamar mandi. Pelan-pelan ia membuka kaus yang dikenakannya. Menatap ke cermin, lelaki yang berprofesi sebagai petugas keamanan itu menyentuh sisi sebelah kanan dadanya. Ia meringis.</p>

<p>Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. “Bim, maaf, aku kebelet pi—itu kenapa?” Mata Yudistira terbeliak melihat dada Bima yang terbalut perban.</p>

<p>“Nggak apa-apa, Yud.”</p>

<p>“Nggak apa-apa gimana? Itu ....”</p>

<p>“Udah sana kamu pipis dulu, nanti aku ceritain.”</p>

<p>Tak kuat menahan rasa ingin buang air kecil, akhirnya Yudistira menurut.</p>

<hr/>

<p>“Ada maling?” pekik Yudistira terkejut mendengar penuturan Bima ketika keduanya sudah duduk bersebelahan di tempat tidur.</p>

<p>“Iya, untungnya cuma sendirian, aku berhasil ngeringkus dia. Udah diserahin ke kantor polisi juga.”</p>

<p>“Tapi ... terus dadanya ... k-kok bisa?” ucap Yudistira terbata-bata. Sedari tadi tangannya mencengkeram lengan Bima, seolah wira kesayangannya akan menghilang jika ia lepaskan.</p>

<p>“Dia bawa senjata tajam, terus ngelawan. Untung pacar kamu ini muridnya Bruce Lee. <em>Hiyah!</em>” Bima menjawil hidungnya dengan ibu jari, bertingkah layaknya sang legenda bela diri.</p>

<p>“Jangan bercanda, aku gemeter ini.” Fokus Yudistira tertuju pada perban di tubuh Bima yang masih bertelanjang dada.</p>

<p>“Aku baik-baik aja, lagian kan udah ditanganin dokter. Kalo lukanya serius juga aku pasti nggak dibolehin pulang. Yud? Yudis, kok nangis?” Bima panik melihat tubuh Yudistira sedikit bergetar, disusul oleh air mata yang menetes membasahi pipinya.</p>

<p>“Aku takut ... kau bilang kau nggak apa-apa, tapi gimana kalo lain kali kau nggak seberuntung ini? Gimana kalo ... kau luka parah dan nggak ketolong? Gimana jadinya hidupku, Bim?” Yudistira semakin terisak.</p>

<p>“Tiap kerjaan punya risikonya sendiri, Yud. Kerjaanku juga gitu.”</p>

<p>“Tapi kerjaanmu risikonya terlalu besar. Abis ini aku bakal makin waswas, nggak akan bisa tenang nungguin kau pulang tiap malem.”</p>

<p>Tersenyum lembut, Bima merengkuh Yudistira ke dalam dekapannya, berhati-hati untuk menghindari sisi tubuhnya yang terluka. “Jangan khawatir, aku janji bakal berusaha jaga diri baik-baik dan selalu pulang buat kamu ... tapi kamu juga janji ya, kalo suatu saat sesuatu yang buruk terjadi sama aku, kamu harus tetep lanjutin hidupmu.”</p>

<p>“Nggak mau.”</p>

<p>“Yudis.”</p>

<p>“Nggak mau,” ulang Yudistira ditambah dengan gelengan kepala. “Aku cuma punya kamu, aku nggak bisa kalo harus hidup sendirian tanpa kamu, aku ....”</p>

<p>“Yudistira.”</p>

<p>Laki-laki yang lebih muda terdiam.</p>

<p>“Untuk sekarang kita lupain dulu masalah ini. Beberapa jam lagi kamu ada ujian lho, jangan sampe kamu nggak bisa konsentrasi, atau malah nggak bisa ikutan karena telat bangun.” Bima merebahkan tubuhnya, membuat Yudistira yang masih menempel padanya ikut terbaring.</p>

<p>“Aku nggak perlu kerja hari ini, jadi nanti aku bisa jemput kamu, terus kita bisa ke tempat Mas Dewa, minta ajarin bikin kue yang kamu suka itu, tapi sekarang kita istirahat dulu ya.”</p>

<p>Meski raut wajahnya masih tampak sendu, Yudistira mengangguk. “<em>Night</em>, Bim ... <em>Mas</em>.”</p>

<p>Bima tersentak. “Eh? Yudis, bangun dulu sebentar, Yud.”</p>

<p>Yudistira yang baru saja terpejam kembali membuka mata.</p>

<p>“Nggak salah denger kan aku? Bilang apa tadi?”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Tadi, kamu panggil aku apa, coba ulang lagi,” pinta Bima.</p>

<p>“Ih.” Yudistira tersipu malu. “<em>Night</em>, Mas,” bisiknya.</p>

<p>“Aduh, tunggu, mana ya <em>handphone</em>-ku? Mau aku rekam ... <em>ouch!</em>”</p>

<p>Yudistira mencubit pinggang Bima sebelum memeluknya lebih erat. “Tidur nggak?”</p>

<p>“Hehehe ... iya, iya, tidur. <em>Night</em>, adek cantik,” balas Bima sebelum mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Yudistira.</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/coming-home</guid>
      <pubDate>Sun, 10 May 2026 05:16:42 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>👽⛓️ | Bambang x Harris / Morgan x Harris</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/bambang-x-harris-morgan-x-harris?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  👽⛓️ | Bambang x Harris / Morgan x Harris&#xA;&#xA;Harris memeriksa ponselnya untuk kesekian kali. Menghela napas, ia kembali menyimpan gawai itu ke dalam saku jaket sebelum meneguk minumannya.&#xA;&#xA;“Masih belum ada kabar dari Morgan?” tanya Bambang yang sedari tadi memperhatikan tingkah Harris.&#xA;&#xA;Lelaki bersurai merah itu menggeleng dengan raut wajah muram. “Aku tau dia sibuk, tapi aku masih berharap paling nggak dia chat aku.”&#xA;&#xA;“Jujur, aku nggak yakin dia inget kalo hari ini kamu ulang tahun, Ris,” ujar Bambang hati-hati.&#xA;&#xA;“Aku rasa kamu bener ....”&#xA;&#xA;“Hei, jangan pasang muka sedih gitu. Ini hari ulang tahun kamu, kita ada di sini buat seneng-seneng. Come, let&#39;s dance.” Bambang menarik tangan Harris, mengajaknya ke lantai dansa.!--more--&#xA;&#xA;Harris sedikit terhuyung. “Bam, pelan-pelan.”&#xA;&#xA;“Come on, show me your best move. Siapa tau kalo kamu bisa bikin aku kagum, aku bakal ngizinin kamu buat nyium aku.” Bambang mengedipkan sebelah matanya.&#xA;&#xA;Entah karena suasana hati yang kurang baik atau karena alkohol dalam sistem tubuhnya, Harris membawa tubuhnya mendekat. Meletakkan kedua tangannya di pinggang Bambang untuk menjaga keseimbangan, ia berjinjit lalu berbisik di telinga yang lebih tua, “Kagum atau nggak, kamu bakal tetep ngizinin aku nyium kamu.”&#xA;&#xA;“Yeah?” sahut Bambang dengan suara berat. Jarak antara bibir mereka hanya tersisa beberapa inci sekarang.&#xA;&#xA;“Yeah.”&#xA;&#xA;“So what are you waiting for? Kiss me, birthday boy.”&#xA;&#xA;“Gladly,” ucap Harris sebelum memejamkan mata dan mempertemukan bibir mereka.&#xA;&#xA;Sekali.&#xA;&#xA;Dua kali.&#xA;&#xA;Tiga kali.&#xA;&#xA;Lama-kelamaan, kecupan kecil yang diberikan Harris berubah menjadi ciuman panjang yang semakin menuntut.&#xA;&#xA;Dalam hati Bambang terkekeh.&#xA;&#xA;See, Morgan ... you messed with my boyfriend, now I&#39;m messing with yours. Sorry, not sorry.&#xA;&#xA;Memastikan Harris masih terpejam, perlahan Bambang mengambil ponsel dari saku celananya.&#xA;&#xA;Click.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>👽⛓️ | Bambang x Harris / Morgan x Harris</p></blockquote>

<p>Harris memeriksa ponselnya untuk kesekian kali. Menghela napas, ia kembali menyimpan gawai itu ke dalam saku jaket sebelum meneguk minumannya.</p>

<p>“Masih belum ada kabar dari Morgan?” tanya Bambang yang sedari tadi memperhatikan tingkah Harris.</p>

<p>Lelaki bersurai merah itu menggeleng dengan raut wajah muram. “Aku tau dia sibuk, tapi aku masih berharap paling nggak dia <em>chat</em> aku.”</p>

<p>“Jujur, aku nggak yakin dia inget kalo hari ini kamu ulang tahun, Ris,” ujar Bambang hati-hati.</p>

<p>“Aku rasa kamu bener ....”</p>

<p>“Hei, jangan pasang muka sedih gitu. Ini hari ulang tahun kamu, kita ada di sini buat seneng-seneng. <em>Come, let&#39;s dance</em>.” Bambang menarik tangan Harris, mengajaknya ke lantai dansa.</p>

<p>Harris sedikit terhuyung. “Bam, pelan-pelan.”</p>

<p>“<em>Come on, show me your best move</em>. Siapa tau kalo kamu bisa bikin aku kagum, aku bakal ngizinin kamu buat nyium aku.” Bambang mengedipkan sebelah matanya.</p>

<p>Entah karena suasana hati yang kurang baik atau karena alkohol dalam sistem tubuhnya, Harris membawa tubuhnya mendekat. Meletakkan kedua tangannya di pinggang Bambang untuk menjaga keseimbangan, ia berjinjit lalu berbisik di telinga yang lebih tua, “Kagum atau nggak, kamu bakal tetep ngizinin aku nyium kamu.”</p>

<p>“<em>Yeah?</em>” sahut Bambang dengan suara berat. Jarak antara bibir mereka hanya tersisa beberapa inci sekarang.</p>

<p>“<em>Yeah</em>.”</p>

<p>“<em>So what are you waiting for? Kiss me, birthday boy</em>.”</p>

<p>“<em>Gladly</em>,” ucap Harris sebelum memejamkan mata dan mempertemukan bibir mereka.</p>

<p>Sekali.</p>

<p>Dua kali.</p>

<p>Tiga kali.</p>

<p>Lama-kelamaan, kecupan kecil yang diberikan Harris berubah menjadi ciuman panjang yang semakin menuntut.</p>

<p>Dalam hati Bambang terkekeh.</p>

<p><em>See, Morgan ... you messed with my boyfriend, now I&#39;m messing with yours. Sorry, not sorry</em>.</p>

<p>Memastikan Harris masih terpejam, perlahan Bambang mengambil ponsel dari saku celananya.</p>

<p><em>Click</em>.</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/bambang-x-harris-morgan-x-harris</guid>
      <pubDate>Sat, 09 May 2026 05:22:49 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>🥃🔍 | BeerLens</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/beerlens?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  🥃🔍 | BeerLens&#xA;&#xA;“Kak Juna? Tumben nggak ngabarin dulu kalo mau ke sini,” komentar Aya saat melihat kakaknya datang berkunjung.&#xA;&#xA;“Sadew sama Nakul ke shopping mall, duo bontot pengen ikut. Gua males jalan-jalan tapi nggak mau sendirian di rumah.” Arjuna menjatuhkan tubuhnya ke sofa.&#xA;&#xA;“Nah, kebetulan! Bantuin kita aja, Bang Juned!” seru Naia yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.&#xA;&#xA;“Bantuin apa?”&#xA;&#xA;“Ngepet.”&#xA;&#xA;Jika saja Arjuna memiliki cukup energi, ia pasti sudah melempar dukun jadi-jadian kesayangan adiknya itu dengan bantalan kursi.&#xA;&#xA;“Orang waras mana yang ngepet siang-siang?” Laki-laki itu terdiam sejenak. “Ralat, orang waras nggak ada yang ngepet.”!--more--&#xA;&#xA;“Ya justru itu, biasanya orang-orang kan ngepet malem, kita siang-siang biar nggak ada saingan,” Naia beralasan. “Kurang cerdas apa coba aku?”&#xA;&#xA;“Terserah lah. Aya, kandangin cewek klenik lu, gua mau numpang tidur siang, jangan diganggu.”&#xA;&#xA;“Dih!”&#xA;---&#xA;“So prettyyy! Dew, liat ini!” Nakula menarik Sadewa agar mendekat, menunjukkan deretan kalung yang terpajang.&#xA;&#xA;“Tadi niat ke sini bukannya mau cari jaket?”&#xA;&#xA;“Tapi ini lucu-lucu, Dewaaa.”&#xA;&#xA;Sadewa terkekeh, satu tangannya mengacak rambut Nakula.&#xA;&#xA;“Eh, itu pasangan ya?”&#xA;&#xA;“Nggak tau, tapi gemes, ganteng sama cantik.”&#xA;&#xA;“Gemes dari mana, anjing? Itu cowok sama cowok! Gay!”&#xA;&#xA;“Iya, anjir, jaman sekarang pada berani ya homoan di tempat umum, jijik liatnya. Dunia kekurangan cewek kah?”&#xA;&#xA;“Najis, pengen gue ludahin rasanya.”&#xA;&#xA;Ekspresi Sadewa seketika berubah. Dengan geram ia berbalik, bermaksud menghampiri orang-orang yang sedang membicarakan mereka, namun Nakula menahannya.&#xA;&#xA;“Nggak usah diladenin, buang-buang waktu. Tuh, cuma kita liatin aja langsung pada mingkem, emang pengecut semua.”&#xA;&#xA;“Tapi, Na ....”&#xA;&#xA;Nakula menggeleng dan tersenyum. “Pilihin satu buat aku,” ucapnya, mengarahkan perhatian Sadewa kembali pada aksesoris di depan mereka.&#xA;&#xA;Menarik napas panjang untuk menenangkan diri, Sadewa mengikuti kemauan lelaki cantiknya.&#xA;&#xA;“Dew.”&#xA;&#xA;“Hm?” Sadewa menoleh.&#xA;&#xA;“Mereka bukan yang pertama dan terakhir ... kalo ada yang gitu lagi, cuekin aja, kecuali mereka nyerang kita secara fisik. Diem dulu, aku belum selesai.”&#xA;&#xA;Sadewa yang sudah membuka mulut untuk bicara membatalkan niatnya.&#xA;&#xA;“Aku tau kau nggak suka kalo aku dikata-katain, tapi masih banyak homophobes di muka bumi, nggak mungkin kau lawan semuanya. Lagian orang-orang di sekitar kita nerima dan support, itu udah cukup buatku,” tutur Nakula. “Jangan sampe karena belain aku, malah kau yang jadi celaka. Ya, Dew?” tambahnya, menatap langsung iris keemasan milik sang kekasih.&#xA;&#xA;But I would burn the world down for you if I had to, Nakula.&#xA;&#xA;“Dewa,” panggil Nakula ketika Sadewa hanya terdiam.&#xA;&#xA;“Nggak janji.”&#xA;&#xA;“Deeew ....”&#xA;&#xA;“Yang itu bagus.” Tidak mempedulikan protes Nakula, Sadewa menunjuk satu kalung yang menurutnya menarik. “Pendant-nya unik, mermaid&#39;s tail.”&#xA;&#xA;“Ih, kau tuh kalo diajak ngomong .... Kenapa pilih itu? Karena ini MerMay?”&#xA;&#xA;“MerMay apaan, kocak? Saya suka, warnanya juga sama kayak mata kamu, kan?”&#xA;&#xA;“Nggak, itu hijau.”&#xA;&#xA;“Jangan bohong kamu.”&#xA;&#xA;Nakula tertawa. “Iya, iya, kau bener.” Diambilnya kalung pilihan Sadewa. “Sek, tak bayar dulu.”&#xA;&#xA;“Udah, biar saya aja.”&#xA;&#xA;“Lah?”&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa. Mana sini kalungnya.”&#xA;&#xA;“Aduh, jadi enak. Makasih, Dewa.” Nakula memberi senyum manisnya sebelum mengikuti langkah Sadewa ke kasir.&#xA;---&#xA;“Mas Kula! Mas Dewa!”&#xA;&#xA;Sadewa dan Nakula yang baru saja meninggalkan toko menengok ke sumber suara.&#xA;&#xA;Bima berlari menghampiri mereka dengan panik.&#xA;&#xA;“Kenapa, Bim?” tanya Sadewa.&#xA;&#xA;“Yudis ... Yudis hilang, Mas!”&#xA;&#xA;Nakula terbelalak. “Hilang? Apa maksudnya hilang?”&#xA;&#xA;“Tadi gue sama Yudis ke GimZone, terus Yudis bilang dia mau ke toilet. Gara-gara lama nggak muncul, akhirnya gue susulin, tapi di toilet nggak ada! Handphone-nya dititipin ke gue, jadi nggak bisa dihubungin,” jelas Bima.&#xA;&#xA;“Oke, tenang dulu ... kita berpencar aja. Saya coba cari sekali lagi ke GimZone. Na, kamu temenin Bima, telepon saya kalau kalian udah nemuin Yudis.”&#xA;&#xA;Bima dan Nakula mengangguk kemudian berjalan menjauh. Sadewa mengambil arah yang berlawanan dengan keduanya.&#xA;&#xA;Tidak menemukan sosok Yudistira di arcade, Sadewa pergi menuju toilet sambil memandang sekeliling, memikirkan tempat apa saja yang mungkin didatangi si mungil.&#xA;&#xA;Sekelebat warna hijau tertangkap oleh sudut matanya. Sadewa berhenti. “Pet shop?” Melangkah masuk, ia bisa mendengar suara tawa yang sangat dikenalnya. “Yudis?”&#xA;&#xA;Kepala Yudistira menyembul dari balik rak mainan. “Sadew!” serunya dengan mata berbinar.&#xA;&#xA;“Kamu ngapain? Bima sama Nakula nyariin, disangkanya kamu hilang.”&#xA;&#xA;“Tadi abis dari toilet aku lewat sini, terus liat kucingnya abang kasir, namanya Cireng ... nama kucingnya, bukan nama abang kasirnya, kalo nama abangnya Solihin. Kata Bang Sol aku boleh ajak main Cireng sebentar,” celoteh Yudistira.&#xA;&#xA;Sadewa menatap kucing berwarna putih yang berbaring terlentang sembari menendang-nendang tangan Yudistira. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponselnya.&#xA;&#xA;“Y-ya, halo?” Nakula terdengar bingung.&#xA;&#xA;“Na, Yudis udah ketemu.”&#xA;&#xA;“Oh, syukurlah ... um ... tapi, Dew.”&#xA;&#xA;“Apa?”&#xA;&#xA;“Bima hilang.”&#xA;&#xA;Sadewa tertegun sesaat. “Gimana?” tanyanya pelan.&#xA;&#xA;“Tau-tau dia nggak ada di sebelahku, ditelepon juga nggak jawab.”&#xA;&#xA;“Telepon terus, mungkin dia nggak denger. Cari di tempat komik atau toko mainan, saya sama Yudis coba cari di food court.”&#xA;&#xA;“Oke.”&#xA;&#xA;Sadewa menghela napas.&#xA;&#xA;Just another normal day in Sadewa Sagara&#39;s life.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>🥃🔍 | BeerLens</p></blockquote>

<p>“Kak Juna? Tumben nggak ngabarin dulu kalo mau ke sini,” komentar Aya saat melihat kakaknya datang berkunjung.</p>

<p>“Sadew sama Nakul ke <em>shopping mall</em>, duo bontot pengen ikut. Gua males jalan-jalan tapi nggak mau sendirian di rumah.” Arjuna menjatuhkan tubuhnya ke sofa.</p>

<p>“Nah, kebetulan! Bantuin kita aja, Bang Juned!” seru Naia yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.</p>

<p>“Bantuin apa?”</p>

<p>“Ngepet.”</p>

<p>Jika saja Arjuna memiliki cukup energi, ia pasti sudah melempar dukun jadi-jadian kesayangan adiknya itu dengan bantalan kursi.</p>

<p>“Orang waras mana yang ngepet siang-siang?” Laki-laki itu terdiam sejenak. “Ralat, orang waras nggak ada yang ngepet.”</p>

<p>“Ya justru itu, biasanya orang-orang kan ngepet malem, kita siang-siang biar nggak ada saingan,” Naia beralasan. “Kurang cerdas apa coba aku?”</p>

<p>“Terserah lah. Aya, kandangin cewek klenik lu, gua mau numpang tidur siang, jangan diganggu.”</p>

<p>“Dih!”</p>

<hr/>

<p>“<em>So prettyyy</em>! Dew, liat ini!” Nakula menarik Sadewa agar mendekat, menunjukkan deretan kalung yang terpajang.</p>

<p>“Tadi niat ke sini bukannya mau cari jaket?”</p>

<p>“Tapi ini lucu-lucu, Dewaaa.”</p>

<p>Sadewa terkekeh, satu tangannya mengacak rambut Nakula.</p>

<p><em>“Eh, itu pasangan ya?”</em></p>

<p><em>“Nggak tau, tapi gemes, ganteng sama cantik.”</em></p>

<p><em>“Gemes dari mana, anjing? Itu cowok sama cowok! Gay!”</em></p>

<p><em>“Iya, anjir, jaman sekarang pada berani ya homoan di tempat umum, jijik liatnya. Dunia kekurangan cewek kah?”</em></p>

<p><em>“Najis, pengen gue ludahin rasanya.”</em></p>

<p>Ekspresi Sadewa seketika berubah. Dengan geram ia berbalik, bermaksud menghampiri orang-orang yang sedang membicarakan mereka, namun Nakula menahannya.</p>

<p>“Nggak usah diladenin, buang-buang waktu. Tuh, cuma kita liatin aja langsung pada <em>mingkem</em>, emang pengecut semua.”</p>

<p>“Tapi, Na ....”</p>

<p>Nakula menggeleng dan tersenyum. “Pilihin satu buat aku,” ucapnya, mengarahkan perhatian Sadewa kembali pada aksesoris di depan mereka.</p>

<p>Menarik napas panjang untuk menenangkan diri, Sadewa mengikuti kemauan lelaki cantiknya.</p>

<p>“Dew.”</p>

<p>“Hm?” Sadewa menoleh.</p>

<p>“Mereka bukan yang pertama dan terakhir ... kalo ada yang gitu lagi, cuekin aja, kecuali mereka nyerang kita secara fisik. Diem dulu, aku belum selesai.”</p>

<p>Sadewa yang sudah membuka mulut untuk bicara membatalkan niatnya.</p>

<p>“Aku tau kau nggak suka kalo aku dikata-katain, tapi masih banyak <em>homophobes</em> di muka bumi, nggak mungkin kau lawan semuanya. Lagian orang-orang di sekitar kita nerima dan <em>support</em>, itu udah cukup buatku,” tutur Nakula. “Jangan sampe karena belain aku, malah kau yang jadi celaka. Ya, Dew?” tambahnya, menatap langsung iris keemasan milik sang kekasih.</p>

<p><em>But I would burn the world down for you if I had to, Nakula</em>.</p>

<p>“Dewa,” panggil Nakula ketika Sadewa hanya terdiam.</p>

<p>“Nggak janji.”</p>

<p>“Deeew ....”</p>

<p>“Yang itu bagus.” Tidak mempedulikan protes Nakula, Sadewa menunjuk satu kalung yang menurutnya menarik. “<em>Pendant</em>-nya unik, <em>mermaid&#39;s tail</em>.”</p>

<p>“Ih, kau tuh kalo diajak ngomong .... Kenapa pilih itu? Karena ini MerMay?”</p>

<p>“MerMay apaan, kocak? Saya suka, warnanya juga sama kayak mata kamu, kan?”</p>

<p>“Nggak, itu hijau.”</p>

<p>“Jangan bohong kamu.”</p>

<p>Nakula tertawa. “Iya, iya, kau bener.” Diambilnya kalung pilihan Sadewa. “<em>Sek, tak</em> bayar dulu.”</p>

<p>“Udah, biar saya aja.”</p>

<p>“Lah?”</p>

<p>“Nggak apa-apa. Mana sini kalungnya.”</p>

<p>“Aduh, jadi enak. Makasih, Dewa.” Nakula memberi senyum manisnya sebelum mengikuti langkah Sadewa ke kasir.</p>

<hr/>

<p>“Mas Kula! Mas Dewa!”</p>

<p>Sadewa dan Nakula yang baru saja meninggalkan toko menengok ke sumber suara.</p>

<p>Bima berlari menghampiri mereka dengan panik.</p>

<p>“Kenapa, Bim?” tanya Sadewa.</p>

<p>“Yudis ... Yudis hilang, Mas!”</p>

<p>Nakula terbelalak. “Hilang? Apa maksudnya hilang?”</p>

<p>“Tadi gue sama Yudis ke GimZone, terus Yudis bilang dia mau ke toilet. Gara-gara lama nggak muncul, akhirnya gue susulin, tapi di toilet nggak ada! <em>Handphone</em>-nya dititipin ke gue, jadi nggak bisa dihubungin,” jelas Bima.</p>

<p>“Oke, tenang dulu ... kita berpencar aja. Saya coba cari sekali lagi ke GimZone. Na, kamu temenin Bima, telepon saya kalau kalian udah nemuin Yudis.”</p>

<p>Bima dan Nakula mengangguk kemudian berjalan menjauh. Sadewa mengambil arah yang berlawanan dengan keduanya.</p>

<p>Tidak menemukan sosok Yudistira di <em>arcade</em>, Sadewa pergi menuju toilet sambil memandang sekeliling, memikirkan tempat apa saja yang mungkin didatangi si mungil.</p>

<p>Sekelebat warna hijau tertangkap oleh sudut matanya. Sadewa berhenti. “<em>Pet shop</em>?” Melangkah masuk, ia bisa mendengar suara tawa yang sangat dikenalnya. “Yudis?”</p>

<p>Kepala Yudistira menyembul dari balik rak mainan. “Sadew!” serunya dengan mata berbinar.</p>

<p>“Kamu ngapain? Bima sama Nakula nyariin, disangkanya kamu hilang.”</p>

<p>“Tadi abis dari toilet aku lewat sini, terus liat kucingnya abang kasir, namanya Cireng ... nama kucingnya, bukan nama abang kasirnya, kalo nama abangnya Solihin. Kata Bang Sol aku boleh ajak main Cireng sebentar,” celoteh Yudistira.</p>

<p>Sadewa menatap kucing berwarna putih yang berbaring terlentang sembari menendang-nendang tangan Yudistira. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponselnya.</p>

<p><em>“Y-ya, halo?”</em> Nakula terdengar bingung.</p>

<p>“Na, Yudis udah ketemu.”</p>

<p><em>“Oh, syukurlah ... um ... tapi, Dew.”</em></p>

<p>“Apa?”</p>

<p><em>“Bima hilang.”</em></p>

<p>Sadewa tertegun sesaat. “Gimana?” tanyanya pelan.</p>

<p><em>“Tau-tau dia nggak ada di sebelahku, ditelepon juga nggak jawab.”</em></p>

<p>“Telepon terus, mungkin dia nggak denger. Cari di tempat komik atau toko mainan, saya sama Yudis coba cari di <em>food court</em>.”</p>

<p><em>“Oke.”</em></p>

<p>Sadewa menghela napas.</p>

<p><em>Just another normal day in Sadewa Sagara&#39;s life</em>.</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/beerlens</guid>
      <pubDate>Wed, 06 May 2026 23:25:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Polyamory 🥃 🔍 🎵</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/polyamory?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Polyamory 🥃 🔍 🎵&#xA;&#xA;“Mas Juna, itu Mas Dewa kenapa? Ngeri banget senyum-senyum sendiri, kesurupan kah?”&#xA;&#xA;“Saya dengar ya, Bima,” ujar Sadewa tanpa menoleh dari layar ponselnya.&#xA;&#xA;“Paling juga lagi chat sama Nakul atau Yudis itu,” Arjuna yang sedang mencoba meracik minuman bersama Bima di mini bar menjawab.&#xA;&#xA;“Oh, Yudis cantik gue apa kabar?”&#xA;&#xA;Sadewa berhenti mengetik, tatapan tajamnya diarahkan pada lelaki termuda di ruangan itu. “Siapa yang kamu sebut ‘cantik gue’?”&#xA;&#xA;“Hehehe ... maaf. Ya elah, posesif amat dah.”&#xA;&#xA;“Eh tapi wajar sih posesif kalo punya pacar spek bidadari plenger kayak Yudis sama Nakul. Lengah dikit bisa-bisa dikarungin, dibawa pulang,” komentar Arjuna.!--more-- “Nggak tau tuh Sadew pergi ke dukun mana sampe bisa dapet dua-duanya.”&#xA;&#xA;“Gue lah orang yang bakal ngarungin dan bawa pulang itu.”&#xA;&#xA;Arjuna memasukkan beberapa ice cube ke dalam gelas. “Nanti gua bantuin, soalnya gua juga mau. Cobain, Bim.”&#xA;&#xA;Bima mengambil gelas yang disodorkan Arjuna lalu menyeruput isinya. “Bleh.” Ia mengernyit. “Emang masalah racik minuman mending kita serahin ke Mas Dewa aja.”&#xA;&#xA;“Lidah lu yang nggak cocok sama masterpiece gua. Selera lu jelek!”&#xA;&#xA;Sadewa yang melihat interaksi keduanya menggelengkan kepala. “Whatever.” Ia mengalihkan fokusnya kembali ke ruang obrolannya dengan Nakula.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Polyamory 🥃 🔍 🎵</p></blockquote>

<p>“Mas Juna, itu Mas Dewa kenapa? Ngeri banget senyum-senyum sendiri, kesurupan kah?”</p>

<p>“Saya dengar ya, Bima,” ujar Sadewa tanpa menoleh dari layar ponselnya.</p>

<p>“Paling juga lagi <em>chat</em> sama Nakul atau Yudis itu,” Arjuna yang sedang mencoba meracik minuman bersama Bima di mini bar menjawab.</p>

<p>“Oh, Yudis cantik gue apa kabar?”</p>

<p>Sadewa berhenti mengetik, tatapan tajamnya diarahkan pada lelaki termuda di ruangan itu. “Siapa yang kamu sebut ‘cantik gue’?”</p>

<p>“Hehehe ... maaf. Ya elah, posesif amat dah.”</p>

<p>“Eh tapi wajar sih posesif kalo punya pacar spek bidadari plenger kayak Yudis sama Nakul. Lengah dikit bisa-bisa dikarungin, dibawa pulang,” komentar Arjuna. “Nggak tau tuh Sadew pergi ke dukun mana sampe bisa dapet dua-duanya.”</p>

<p>“Gue lah orang yang bakal ngarungin dan bawa pulang itu.”</p>

<p>Arjuna memasukkan beberapa <em>ice cube</em> ke dalam gelas. “Nanti gua bantuin, soalnya gua juga mau. Cobain, Bim.”</p>

<p>Bima mengambil gelas yang disodorkan Arjuna lalu menyeruput isinya. “<em>Bleh</em>.” Ia mengernyit. “Emang masalah racik minuman mending kita serahin ke Mas Dewa aja.”</p>

<p>“Lidah lu yang nggak cocok sama <em>masterpiece</em> gua. Selera lu jelek!”</p>

<p>Sadewa yang melihat interaksi keduanya menggelengkan kepala. “<em>Whatever</em>.” Ia mengalihkan fokusnya kembali ke ruang obrolannya dengan Nakula.</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/polyamory</guid>
      <pubDate>Sun, 03 May 2026 01:35:44 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>👽 | Bambang x OFC</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/bambang-x-ofc?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  👽 | Bambang x OFC&#xA;&#xA;Kirana mengetuk pintu yang setengah terbuka, melambaikan tangan saat sang pemilik kamar yang sedang berjongkok di depan lemari pakaian menoleh ke arahnya.&#xA;&#xA;“Hei, Ran. Masuk sini.”&#xA;&#xA;Perempuan berambut sebahu itu menurut. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. “Packing?” tanyanya melihat koper yang hampir terisi penuh.&#xA;&#xA;“Iya, biar santai, kalo buru-buru takut ada yang ketinggalan.”&#xA;&#xA;“Bawa underwear ekstra, Bam, buat jaga-jaga.”&#xA;&#xA;Bambang—si pemuda, tertawa. “Don&#39;t worry, kalo semua kotor, I can just go commando.”&#xA;&#xA;Kirana memutar bola matanya malas.!--more-- “Berangkatnya tetep lusa, kan? Nggak ada perubahan?”&#xA;&#xA;“Yup, keretanya jam setengah enam.”&#xA;&#xA;“Pagi banget.”&#xA;&#xA;“Kenapa? Mau nganter?” Bambang menyelipkan sepasang kaos kaki ke dalam kopernya.&#xA;&#xA;“Tadinya iya, tapi kayaknya jam segitu aku belum bangun.”&#xA;&#xA;“Nginep sini, nanti aku bangunin.”&#xA;&#xA;“Liat besok aja,” jawab Kirana singkat.&#xA;&#xA;Untuk beberapa saat percakapan mereka terhenti. Kirana asik dengan ponselnya, hingga Bambang bangkit kemudian ikut berbaring di samping gadis itu.&#xA;&#xA;Kirana mengalihkan perhatian dari video pendek yang ditontonnya. “Udah beres?”&#xA;&#xA;“Udah, besok tinggal cek ulang.” Bambang menatap Kirana dan tersenyum. “Aku cuma pergi dua minggu, sebelum kamu sempet kangen juga aku udah ada di sini lagi, nggak usah sedih gitu.”&#xA;&#xA;“Siapa yang sedih? Aku cuma mikirin kalo nanti putingku sakit gara-gara PMS, siapa yang bakal massage, jilatin, sama ngisepin biar nggak sakit lagi?”&#xA;&#xA;Mata Bambang membulat. “Sialan,” ujarnya saat Kirana terkekeh. “Di kepalaku langsung muncul visualisasinya, lagi.”&#xA;&#xA;“Mesum.”&#xA;&#xA;“Emang kamu nggak?” balas Bambang. “Eh, Ran, jangan cari orang lain buat ngilangin sakitnya ya.”&#xA;&#xA;“Ngapain? Buang-buang waktu. Belum tentu lebih enak dari kamu juga ngasih treatment-nya.”&#xA;&#xA;“Betul.” Bambang mengangguk puas. “Cuma aku yang bisa, nggak ada yang boleh ambil alih tugasku. Udah akrab banget aku tuh sama mereka.”&#xA;&#xA;Kirana mengernyit bingung. “Mereka? Siapa?”&#xA;&#xA;“Mereka.” Pandangan Bambang tertuju pada payudara sintal Kirana. “Aku udah tau sampe ke detail-detailnya, bentuk boobs kamu udah melekat di otakku.”&#xA;&#xA;“Anjing,” umpat Kirana, diikuti tawa Bambang.&#xA;&#xA;“Mulutmu, Ran.”&#xA;&#xA;“Kenapa? Mau cipok?”&#xA;&#xA;“Mau.” Bambang mengeluarkan tatapan memelas dan mendekatkan wajahnya. “Mau nenen juga, boleh?”&#xA;&#xA;“Nggak!” Kirana mendorong kening Bambang dengan telunjuknya. “Nanti aja, kalo lagi bantuin aku bulan depan.”&#xA;&#xA;“Ah, sedih. Kamu nggak bisa apa, menstruasinya seminggu sekali?”&#xA;&#xA;Tak butuh waktu lama, telapak tangan Kirana mendarat cukup keras di pelipis Bambang. “Kamu aja sana yang menstruasi, biar tau gimana rasanya! Seenaknya aja kalo ngomong!”&#xA;&#xA;“Iya, iya, ampun ... cuma bercanda, Ran, nggak lagi-lagiii!”&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>👽 | Bambang x OFC</p></blockquote>

<p>Kirana mengetuk pintu yang setengah terbuka, melambaikan tangan saat sang pemilik kamar yang sedang berjongkok di depan lemari pakaian menoleh ke arahnya.</p>

<p>“Hei, Ran. Masuk sini.”</p>

<p>Perempuan berambut sebahu itu menurut. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. “<em>Packing</em>?” tanyanya melihat koper yang hampir terisi penuh.</p>

<p>“Iya, biar santai, kalo buru-buru takut ada yang ketinggalan.”</p>

<p>“Bawa <em>underwear</em> ekstra, Bam, buat jaga-jaga.”</p>

<p>Bambang—si pemuda, tertawa. “<em>Don&#39;t worry</em>, kalo semua kotor, <em>I can just go commando</em>.”</p>

<p>Kirana memutar bola matanya malas. “Berangkatnya tetep lusa, kan? Nggak ada perubahan?”</p>

<p>“<em>Yup</em>, keretanya jam setengah enam.”</p>

<p>“Pagi banget.”</p>

<p>“Kenapa? Mau nganter?” Bambang menyelipkan sepasang kaos kaki ke dalam kopernya.</p>

<p>“Tadinya iya, tapi kayaknya jam segitu aku belum bangun.”</p>

<p>“Nginep sini, nanti aku bangunin.”</p>

<p>“Liat besok aja,” jawab Kirana singkat.</p>

<p>Untuk beberapa saat percakapan mereka terhenti. Kirana asik dengan ponselnya, hingga Bambang bangkit kemudian ikut berbaring di samping gadis itu.</p>

<p>Kirana mengalihkan perhatian dari video pendek yang ditontonnya. “Udah beres?”</p>

<p>“Udah, besok tinggal cek ulang.” Bambang menatap Kirana dan tersenyum. “Aku cuma pergi dua minggu, sebelum kamu sempet kangen juga aku udah ada di sini lagi, nggak usah sedih gitu.”</p>

<p>“Siapa yang sedih? Aku cuma mikirin kalo nanti putingku sakit gara-gara PMS, siapa yang bakal <em>massage</em>, jilatin, sama ngisepin biar nggak sakit lagi?”</p>

<p>Mata Bambang membulat. “Sialan,” ujarnya saat Kirana terkekeh. “Di kepalaku langsung muncul visualisasinya, lagi.”</p>

<p>“Mesum.”</p>

<p>“Emang kamu nggak?” balas Bambang. “Eh, Ran, jangan cari orang lain buat ngilangin sakitnya ya.”</p>

<p>“Ngapain? Buang-buang waktu. Belum tentu lebih enak dari kamu juga ngasih <em>treatment</em>-nya.”</p>

<p>“Betul.” Bambang mengangguk puas. “Cuma aku yang bisa, nggak ada yang boleh ambil alih tugasku. Udah akrab banget aku tuh sama mereka.”</p>

<p>Kirana mengernyit bingung. “Mereka? Siapa?”</p>

<p>“Mereka.” Pandangan Bambang tertuju pada payudara sintal Kirana. “Aku udah tau sampe ke detail-detailnya, bentuk <em>boobs</em> kamu udah melekat di otakku.”</p>

<p>“Anjing,” umpat Kirana, diikuti tawa Bambang.</p>

<p>“Mulutmu, Ran.”</p>

<p>“Kenapa? Mau cipok?”</p>

<p>“Mau.” Bambang mengeluarkan tatapan memelas dan mendekatkan wajahnya. “Mau nenen juga, boleh?”</p>

<p>“Nggak!” Kirana mendorong kening Bambang dengan telunjuknya. “Nanti aja, kalo lagi bantuin aku bulan depan.”</p>

<p>“Ah, sedih. Kamu nggak bisa apa, menstruasinya seminggu sekali?”</p>

<p>Tak butuh waktu lama, telapak tangan Kirana mendarat cukup keras di pelipis Bambang. “Kamu aja sana yang menstruasi, biar tau gimana rasanya! Seenaknya aja kalo ngomong!”</p>

<p>“Iya, iya, ampun ... cuma bercanda, Ran, nggak lagi-lagiii!”</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/bambang-x-ofc</guid>
      <pubDate>Fri, 01 May 2026 16:50:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>🌪🎵 | StormNote</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/stormnote?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  🌪🎵 | StormNote&#xA;&#xA;“Yudis!”&#xA;&#xA;Yudistira tersentak ketika pintu kamarnya dibuka dengan cukup keras, disusul seorang laki-laki yang muncul dengan napas terengah, rambut berantakan, dan juga pakaian yang sedikit kusut.&#xA;&#xA;Tanpa memberi Yudistira kesempatan untuk menghilangkan rasa terkejutnya, pemuda itu melangkah masuk dengan langkah lebar, menghampiri Yudistira yang sedang duduk di tempat tidur kemudian memeluknya erat.&#xA;&#xA;“Bim?”&#xA;&#xA;“Diem dulu, sebentar aja,” pinta Bima, napasnya yang tak beraturan menggelitik leher Yudistira.&#xA;&#xA;“Lama juga nggak apa-apa, tapi pindah dulu, biar posisi kau lebih nyaman.” Yudistira melempar komik di tangannya ke nakas lalu membantu Bima agar duduk di sampingnya.!--more--&#xA;&#xA;Keduanya terdiam. Sesekali tangan Yudistira bergerak merapikan surai Bima dan mengusap punggungnya, sedangkan yang lebih tua masih setia melingkarkan lengannya di pinggang yang lebih ramping.&#xA;&#xA;“Yudis,” panggil Bima beberapa lama kemudian.&#xA;&#xA;Yudistira kembali memberikan usapan pelan di punggung Bima. “Hmm?”&#xA;&#xA;“Yudis.”&#xA;&#xA;“Aku di sini, Bim.”&#xA;&#xA;Melonggarkan pelukannya, Bima mendongak menatap Yudistira. “Gue mimpi lu pergi ninggalin gue, Yud,” ujarnya sebelum menyandarkan keningnya di bahu pemuda mungil itu.&#xA;&#xA;“Gue teriak-teriak manggil lu biar lu nggak pergi, biar lu balik, tapi lu nggak denger, lu terus jalan tanpa noleh lagi ke belakang. Gue pengen lari ngejar lu, tapi kaki gue rasanya kaku, nggak bisa digerakkin. Akhirnya gue cuma bisa nangis sambil tetep manggil nama lu, ngeliat lu yang makin jauh. Pas bangun ternyata gue nangis beneran,” Bima mengakhiri ceritanya dengan tarikan napas panjang.&#xA;&#xA;“Itu alesannya kau keliatan berantakan pas baru nyampe tadi?”&#xA;&#xA;Bima mengangguk. “Begitu bangun gue panik, nggak bisa mikir apa-apa, cuma pengen ketemu lu. Jadi gue buru-buru ke sini. Nggak lagi-lagi deh gue tidur menjelang maghrib, mimpinya jelek banget, sialan.”&#xA;&#xA;Yudistira tersenyum. Sepertinya Bima sudah lebih tenang. “Udah, cuma mimpi doang, jangan dipikirin. Meski kau kadang nyebelin tapi aku sayang, Bim, mana mungkin aku ninggalin.”&#xA;&#xA;“Beneran cuma mimpi, kan?”&#xA;&#xA;“Cuma mimpi,” ulang Yudistira meyakinkan sahabatnya. “Kau ke sini pake apa? Kayaknya aku gak denger suara motor masuk deh.”&#xA;&#xA;“Motor gue mendadak ngadat, jadi gue pake sepeda.” Bima menggeser tubuhnya lebih dekat pada Yudistira. “Kayaknya kecepatan gue tadi udah bisa ngalahin atlet.”&#xA;&#xA;“Kenapa harus ngebut segala sih?”&#xA;&#xA;“Ya gue kan panik, mimpinya berasa nyata banget,” Bima membela diri. “Yang ada di kepala gue cuma ‘Yudis, Yudis, harus ketemu Yudis, harus mastiin gue masih bisa liat Yudis, harus peluk kenceng-kenceng biar Yudis nggak pergi’ gitu, Yud.”&#xA;&#xA;Membayangkan Bima mengayuh sepeda seperti orang kesetanan hanya untuk bertemu dengannya memberi rasa hangat di dada Yudistira. Di saat bersamaan, ia juga merutuki tingkah impulsif laki-laki itu. “Ya tapi kalo kau celaka gimana? Aku yang nangis, Bim.”&#xA;&#xA;“Nggak kepikiran hehehe.” Bima mengeluarkan kekehan khasnya.&#xA;&#xA;“Bima Bayusena.”&#xA;&#xA;Pelukan di pinggang Yudistira bertambah erat. “Maaf, jangan marah. Eh, marah aja nggak apa-apa, yang penting lu nggak pergi, lu udah janji.”&#xA;&#xA;Mata Yudistira berkilat jahil. “Kapan aku janji?”&#xA;&#xA;“Tadi lu bilang nggak akan ninggalin gue!”&#xA;&#xA;“Tapi kan aku nggak janji?”&#xA;&#xA;“Ya udah, janji sekarang, cepet!”&#xA;&#xA;“Dih, kau siapa nyuruh-nyuruh aku?”&#xA;&#xA;“Yudiiis!”&#xA;&#xA;“Berisik, oi! Gua kawinin juga ya lu berdua!” suara Arjuna—kakak sepupu Yudistira—terdengar dari luar kamar.&#xA;&#xA;“Kita nggak mau kawin sama lu!” sahut Bima tak kalah nyaring, membuat Yudistira harus menutup telinganya.&#xA;&#xA;“Maksudnya bukan gua yang kawin sama lu berdua, kocak! Auk ah, stres gua, streees!”&#xA;&#xA;Bima menatap Yudistira. “Mas Juna ada masalah apa sih?”&#xA;&#xA;Yudistira mengangkat bahu. “Lagi diare kali dia.”&#xA;&#xA;“Ck ck, kasian, pasti gara-gara kebanyakan makan sayur.”&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>🌪🎵 | StormNote</p></blockquote>

<p>“Yudis!”</p>

<p>Yudistira tersentak ketika pintu kamarnya dibuka dengan cukup keras, disusul seorang laki-laki yang muncul dengan napas terengah, rambut berantakan, dan juga pakaian yang sedikit kusut.</p>

<p>Tanpa memberi Yudistira kesempatan untuk menghilangkan rasa terkejutnya, pemuda itu melangkah masuk dengan langkah lebar, menghampiri Yudistira yang sedang duduk di tempat tidur kemudian memeluknya erat.</p>

<p>“Bim?”</p>

<p>“Diem dulu, sebentar aja,” pinta Bima, napasnya yang tak beraturan menggelitik leher Yudistira.</p>

<p>“Lama juga nggak apa-apa, tapi pindah dulu, biar posisi kau lebih nyaman.” Yudistira melempar komik di tangannya ke nakas lalu membantu Bima agar duduk di sampingnya.</p>

<p>Keduanya terdiam. Sesekali tangan Yudistira bergerak merapikan surai Bima dan mengusap punggungnya, sedangkan yang lebih tua masih setia melingkarkan lengannya di pinggang yang lebih ramping.</p>

<p>“Yudis,” panggil Bima beberapa lama kemudian.</p>

<p>Yudistira kembali memberikan usapan pelan di punggung Bima. “Hmm?”</p>

<p>“Yudis.”</p>

<p>“Aku di sini, Bim.”</p>

<p>Melonggarkan pelukannya, Bima mendongak menatap Yudistira. “Gue mimpi lu pergi ninggalin gue, Yud,” ujarnya sebelum menyandarkan keningnya di bahu pemuda mungil itu.</p>

<p>“Gue teriak-teriak manggil lu biar lu nggak pergi, biar lu balik, tapi lu nggak denger, lu terus jalan tanpa noleh lagi ke belakang. Gue pengen lari ngejar lu, tapi kaki gue rasanya kaku, nggak bisa digerakkin. Akhirnya gue cuma bisa nangis sambil tetep manggil nama lu, ngeliat lu yang makin jauh. Pas bangun ternyata gue nangis beneran,” Bima mengakhiri ceritanya dengan tarikan napas panjang.</p>

<p>“Itu alesannya kau keliatan berantakan pas baru nyampe tadi?”</p>

<p>Bima mengangguk. “Begitu bangun gue panik, nggak bisa mikir apa-apa, cuma pengen ketemu lu. Jadi gue buru-buru ke sini. Nggak lagi-lagi deh gue tidur menjelang maghrib, mimpinya jelek banget, sialan.”</p>

<p>Yudistira tersenyum. Sepertinya Bima sudah lebih tenang. “Udah, cuma mimpi doang, jangan dipikirin. Meski kau kadang nyebelin tapi aku sayang, Bim, mana mungkin aku ninggalin.”</p>

<p>“Beneran cuma mimpi, kan?”</p>

<p>“Cuma mimpi,” ulang Yudistira meyakinkan sahabatnya. “Kau ke sini pake apa? Kayaknya aku gak denger suara motor masuk deh.”</p>

<p>“Motor gue mendadak ngadat, jadi gue pake sepeda.” Bima menggeser tubuhnya lebih dekat pada Yudistira. “Kayaknya kecepatan gue tadi udah bisa ngalahin atlet.”</p>

<p>“Kenapa harus ngebut segala sih?”</p>

<p>“Ya gue kan panik, mimpinya berasa nyata banget,” Bima membela diri. “Yang ada di kepala gue cuma ‘Yudis, Yudis, harus ketemu Yudis, harus mastiin gue masih bisa liat Yudis, harus peluk kenceng-kenceng biar Yudis nggak pergi’ gitu, Yud.”</p>

<p>Membayangkan Bima mengayuh sepeda seperti orang kesetanan hanya untuk bertemu dengannya memberi rasa hangat di dada Yudistira. Di saat bersamaan, ia juga merutuki tingkah impulsif laki-laki itu. “Ya tapi kalo kau celaka gimana? Aku yang nangis, Bim.”</p>

<p>“Nggak kepikiran hehehe.” Bima mengeluarkan kekehan khasnya.</p>

<p>“Bima Bayusena.”</p>

<p>Pelukan di pinggang Yudistira bertambah erat. “Maaf, jangan marah. Eh, marah aja nggak apa-apa, yang penting lu nggak pergi, lu udah janji.”</p>

<p>Mata Yudistira berkilat jahil. “Kapan aku janji?”</p>

<p>“Tadi lu bilang nggak akan ninggalin gue!”</p>

<p>“Tapi kan aku nggak janji?”</p>

<p>“Ya udah, janji sekarang, cepet!”</p>

<p>“Dih, kau siapa nyuruh-nyuruh aku?”</p>

<p>“Yudiiis!”</p>

<p>“Berisik, oi! Gua kawinin juga ya lu berdua!” suara Arjuna—kakak sepupu Yudistira—terdengar dari luar kamar.</p>

<p>“Kita nggak mau kawin sama lu!” sahut Bima tak kalah nyaring, membuat Yudistira harus menutup telinganya.</p>

<p>“Maksudnya bukan gua yang kawin sama lu berdua, kocak! Auk ah, stres gua, streees!”</p>

<p>Bima menatap Yudistira. “Mas Juna ada masalah apa sih?”</p>

<p>Yudistira mengangkat bahu. “Lagi diare kali dia.”</p>

<p>“Ck ck, kasian, pasti gara-gara kebanyakan makan sayur.”</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/stormnote</guid>
      <pubDate>Tue, 28 Apr 2026 07:15:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>☀️🎵 | SunNote</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/sunnote?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  ☀️🎵 | SunNote&#xA;&#xA;Arjuna mendengus kemudian membuang pandangannya ke luar jendela. Ia mulai menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Nakula untuk menemaninya hari ini.&#xA;&#xA;“Kenapa, Jun?” Sadewa yang sedang menyetir menatap Arjuna sekilas melalui spion mobilnya.&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa.”&#xA;&#xA;Nakula yang duduk di samping Sadewa menoleh, memutar tubuhnya agar dapat melihat Arjuna dengan jelas. “Beneran nggak apa-apa? Nggak mabuk darat, kan? Kau mual?”&#xA;&#xA;“Iya, mual gara-gara kalian. Tolong ya PDA-nya dikontrol, dari kursi belakang keliatan jelas banget ini,” Arjuna bersungut-sungut. “Kalo kita kecelakaan gara-gara Si Sadew nggak konsen nyetir, gimana?”&#xA;&#xA;Nakula dan Sadewa kompak terbahak. “Maaf, maaf. Aduh, lupa kalo ada penumpang di belakang,” goda Nakula, membuat Arjuna semakin kesal.!--more--&#xA;&#xA;“Ternyata bener, jangan suka berduaan, nanti yang ketiganya iblis dari Utara,” Sadewa menimpali ucapan kekasihnya.&#xA;&#xA;“Turunin gua di sini aja dah, gua mau pulang.” Arjuna berpura-pura akan membuka pintu mobil. Dalam hati ia tertawa saat kedua orang yang duduk di depannya langsung terlihat panik.&#xA;&#xA;“Eh, jangan, Jun! Iya, kita nggak godain kau lagi. Duduk, duduk!” seru Nakula sembari mengibas-ngibaskan tangannya, meminta Arjuna untuk tenang. “Kau sih, Dew.”&#xA;&#xA;“Lah, kok saya?”&#xA;&#xA;“Ya memang salahmu. Aku cantik dan baik hati gini, masa salahku?”&#xA;&#xA;“Malas. Sedikit lagi nyampe nih.” Tak lama Sadewa memarkir mobilnya di depan sebuah gang. Ia lantas mengambil ponselnya. “Sebentar, kabarin dia dulu.”&#xA;&#xA;“Oh, kita nggak nyamperin ke rumahnya, Dew?”&#xA;&#xA;“Dia nyuruh buat nunggu di sini aja, biar saya nggak repot keluar masuknya juga katanya,” jelas Sadewa.&#xA;&#xA;Arjuna mengamati keadaan di sekitarnya. Tempat di mana ia berada sekarang cukup sepi, mungkin memang jarang dilalui oleh kendaraan karena lokasinya yang jauh dari jalan raya. Di warung kopi seberang jalan, beberapa pemuda terlihat tengah berkumpul.&#xA;&#xA;“Shit,” desis Arjuna saat salah satu dari para lelaki yang tampak menyeramkan itu bangkit dan berjalan mendekati mereka kemudian mengetuk kaca mobil.&#xA;&#xA;Astaga, apa dia preman daerah sini? Apa kita akan dapat masalah? Arjuna membatin.&#xA;&#xA;Sadewa membuka pintu lalu turun dari mobilnya.&#xA;&#xA;“Halo, Bima,” sapa Nakula.&#xA;&#xA;“Oi, Mas Kula.” Laki-laki dengan rambut yang dicat ungu itu melirik Arjuna dan menganggukkan kepala, yang dibalas Arjuna dengan canggung. “Mau ke mana ini, Mas Dewa, kok rombongan?”&#xA;&#xA;“Hahaha ... mau nganter Yudis kompetisi,” jawab Sadewa santai.&#xA;&#xA;“Serius? Parah, nggak bilang-bilang dia kalo mau ikut lomba lagi. Nah, itu anaknya. Woy, Yudis!”&#xA;&#xA;Seseorang dengan papan luncur di tangannya menghampiri mereka setengah berlari. “Halo, halo, semua.” Sang pemuda mengedikkan bahu untuk membetulkan letak ranselnya.&#xA;&#xA;“Kok lu nggak bilang sih kalo ada kompetisi?” tanya Bima.&#xA;&#xA;“Sengaja, kalo aku bilang nanti kau maksa ngasih aku duit buat pendaftarannya lagi. Nggak enak aku,” Yudistira beralasan.&#xA;&#xA;“Elah, kayak ke siapa aja lu, Yud.”&#xA;&#xA;Jadi ini penampakan Yudistira yang Sadewa sebut sebagai salah satu teman baiknya.&#xA;&#xA;Berdiri bersebelahan dengan prem—eh, siapa tadi namanya? Bima?—Yudistira terlihat mungil. Parasnya manis, apalagi saat dia tersenyum menanggapi ucapan Bima. Rambut hitam dengan sedikit warna hijau menjuntai dari balik topi yang dipakainya.&#xA;&#xA;Arjuna tak sadar jika sedari tadi matanya terus tertuju pada Yudistira, hingga ia mendengar Bima terbatuk. Dilihatnya lelaki itu menyenggol lengan si skater sebelum memiringkan kepala ke arah Arjuna, membuat Yudistira menoleh padanya.&#xA;&#xA;Sial.&#xA;&#xA;Arjuna cepat-cepat berpaling ke arah lain.&#xA;&#xA;“Ayo berangkat sekarang, takut macet,” ajak Sadewa.&#xA;&#xA;“Eh, eh, gue ikut dong, Mas!”&#xA;&#xA;“Ngapain, Bim?”&#xA;&#xA;“Ya mau nonton Yudis, masa partner in crime gue tanding gue nggak kasih support? Gue ikut pokoknya.”&#xA;&#xA;Sadewa menatap kursi belakang, Yudistira, dan Bima bergantian. “Kayaknya nggak muat ....”&#xA;&#xA;“Mas Kula duduk di belakang, gue di depan.”&#xA;&#xA;“Emoh,” tolak Nakula cepat.&#xA;&#xA;“Mas Dewa pindah belakang, gue yang nyetir,” Bima kembali memberi usul.&#xA;&#xA;“Mending aku naik bus, lebih aman,” komentar Yudistira.&#xA;&#xA;“Disopirin kamu bisa-bisa kita malah mampir ke rumah sakit,” Sadewa menambahkan.&#xA;&#xA;“Ih, kok kalian jahat sama gue? Kenapa gue nggak boleh ikut main bareng? Bukan bagian circle-kah gue?” Bima mengalihkan pandangannya pada Yudistira. “Yud ...,” panggilnya dengan nada memelas.&#xA;&#xA;Arjuna tidak menyangka jika laki-laki berpostur tinggi besar layaknya bodyguard itu ternyata tingkahnya menggemaskan seperti anak kecil.&#xA;&#xA;“Ya udah, kau duduk di kursi belakang sana. Yudis sini tak pangku.” Nakula menepuk-nepuk pahanya.&#xA;&#xA;“Dicegat polisi nanti, Nakula.” Yudistira tertawa kecil.&#xA;&#xA;Ah, kenapa suara tawanya imut sekali? Rasanya ingin dengar berulang kali.&#xA;&#xA;Arjuna berkedip. Apa yang dia pikirkan? Ini pasti gara-gara mi instan kadaluarsa yang dimakannya pagi tadi, otaknya jadi sedikit aneh.&#xA;&#xA;“Mas Dewa, ikut.” Rupanya Bima masih belum menyerah.&#xA;&#xA;Sadewa menghela napas. “Yud, simpen tas sama skateboard kamu di bagasi. Bima boleh ikut, tapi kalo banyak ngeluh saya turunin di tengah jalan.”&#xA;&#xA;“Siap, Mas, hehe .... Sini, Yud, biar gue yang masukin bagasi.” Bima mengambil ransel serta papan luncur milik Yudistira kemudian mengikuti Sadewa ke bagian belakang mobil.&#xA;&#xA;Arjuna nyaris berteriak kaget ketika tiba-tiba Yudistira melompat masuk lalu duduk di sebelahnya. Perlahan ia menoleh, dan sedetik kemudian mengumpat dalam hati.&#xA;&#xA;Karena Yudistira tengah menatapnya. Karena kini Arjuna beradu pandang dengan sepasang mata terindah yang pernah ia lihat selama hidupnya. Karena Yudistira telah melepas topinya dan Arjuna menemukan sebuah tindikan menghiasi alis kanan pemuda itu.&#xA;&#xA;Arjuna menelan ludah.&#xA;&#xA;“Yudistira,” ujar Yudistira dengan suara pelan.&#xA;&#xA;“Hah?” hanya itu yang keluar dari mulut Arjuna.&#xA;&#xA;“Panggil Yudis boleh, Tira boleh, terserah kau aja.”&#xA;&#xA;“Oh, um ... A-Arjuna,” balas Arjuna terbata sambil menjabat tangan Yudistira yang terulur.&#xA;&#xA;“A-Arjuna? Berarti panggil A&#39;a boleh?”&#xA;&#xA;Arjuna bisa mendengar suara Nakula yang mencoba menahan tawa.&#xA;&#xA;Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan Yudistira, napasnya seakan terhenti sewaktu pemuda yang lebih kecil itu terdorong hingga setengah tubuhnya berada di pangkuan Arjuna.&#xA;&#xA;“Geser, Yud, biar gue kebagian tempat.” Bima yang baru saja masuk berusaha menutup pintu mobil, tanpa memperhitungkan jika gerakannya membuat Yudistira makin terhimpit.&#xA;&#xA;“Biiim, aku lho ini kejepit,” protes Yudistira.&#xA;&#xA;Arjuna ingin beringsut menjauh, tetapi tubuhnya sudah benar-benar menempel dengan pintu. Alhasil, ia hanya bisa duduk dengan kaku, tidak berani bergerak.&#xA;&#xA;“Ih, gue juga susah ini. Lagian Mas Dewa punya mobil kecil banget, gue rendem di minyak tanah juga nih biar melar.”&#xA;&#xA;“Bim, tadi saya bilang apa kalau kamu ngeluh?”&#xA;&#xA;“Iya, Mas, nggak ngeluh kok, nggak.” Bima segera bergeser sehingga Yudistira bisa mendapat lebih banyak ruang.&#xA;&#xA;“Jangan ribut lagi ya, kita berangkat.” Sadewa mengemudikan kendaraannya meninggalkan tempat itu.&#xA;&#xA;Yudistira membetulkan posisi duduknya. “Maaf ya, A&#39;a.”&#xA;&#xA;Baru saja sedikit rileks, Arjuna kembali menegang. “E-eh, jangan panggil gitu.”&#xA;&#xA;“A&#39;a? Kok A&#39;a?” Bima yang mendengar Yudistira bertanya ingin tahu.&#xA;&#xA;“Namanya A-Arjuna katanya,” sahut Yudistira.&#xA;&#xA;“Oh. Kenalin, &#39;A, gue Bima.”&#xA;&#xA;“Bukaaan, Arjuna aja, Arjuna,” Arjuna meralat.&#xA;&#xA;“Jadi nggak boleh panggil A&#39;a?” Raut wajah Yudistira berubah muram.&#xA;&#xA;Tuhan, cobaan apa lagi ini?&#xA;&#xA;“B-boleh. Kalo lu, boleh,” kalimat terakhir diucapkan Arjuna nyaris tak terdengar, tapi Yudistira bisa menangkapnya. Ia tersenyum dan mengangguk.&#xA;&#xA;“Tapi ya, Dew, kau kayaknya emang harus ganti mobil yang lebih besar deh,” Nakula bersuara. “Jadi kita bisa sering pergi ramean, piknik ke mana gitu, seru kayaknya.”&#xA;&#xA;“Nah kan, apa gue bilang.”&#xA;&#xA;“Ya, nanti, nunggu dapet hadiah mancing,” jawab Sadewa sekenanya.&#xA;&#xA;“Halah, mancing, kau itu cuma jago mancing perkoro.”&#xA;&#xA;Yudistira dan Bima tergelak. Tubuh bongsor Bima lagi-lagi mendorong Yudistira menempel pada Arjuna, hanya saja kali ini, meski Bima telah kembali duduk dengan benar, Yudistira tidak menjauh ataupun menarik tangannya yang berada di atas paha Arjuna.&#xA;&#xA;Walau sepertinya perjalanan ini akan memakan waktu lama, Arjuna sama sekali tidak keberatan.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>☀️🎵 | SunNote</p></blockquote>

<p>Arjuna mendengus kemudian membuang pandangannya ke luar jendela. Ia mulai menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Nakula untuk menemaninya hari ini.</p>

<p>“Kenapa, Jun?” Sadewa yang sedang menyetir menatap Arjuna sekilas melalui spion mobilnya.</p>

<p>“Nggak apa-apa.”</p>

<p>Nakula yang duduk di samping Sadewa menoleh, memutar tubuhnya agar dapat melihat Arjuna dengan jelas. “Beneran nggak apa-apa? Nggak mabuk darat, kan? Kau mual?”</p>

<p>“Iya, mual gara-gara kalian. Tolong ya PDA-nya dikontrol, dari kursi belakang keliatan jelas banget ini,” Arjuna bersungut-sungut. “Kalo kita kecelakaan gara-gara Si Sadew nggak konsen nyetir, gimana?”</p>

<p>Nakula dan Sadewa kompak terbahak. “Maaf, maaf. Aduh, lupa kalo ada penumpang di belakang,” goda Nakula, membuat Arjuna semakin kesal.</p>

<p>“Ternyata bener, jangan suka berduaan, nanti yang ketiganya iblis dari Utara,” Sadewa menimpali ucapan kekasihnya.</p>

<p>“Turunin gua di sini aja dah, gua mau pulang.” Arjuna berpura-pura akan membuka pintu mobil. Dalam hati ia tertawa saat kedua orang yang duduk di depannya langsung terlihat panik.</p>

<p>“Eh, jangan, Jun! Iya, kita nggak godain kau lagi. Duduk, duduk!” seru Nakula sembari mengibas-ngibaskan tangannya, meminta Arjuna untuk tenang. “Kau sih, Dew.”</p>

<p>“Lah, kok saya?”</p>

<p>“Ya memang salahmu. Aku cantik dan baik hati gini, masa salahku?”</p>

<p>“Malas. Sedikit lagi nyampe nih.” Tak lama Sadewa memarkir mobilnya di depan sebuah gang. Ia lantas mengambil ponselnya. “Sebentar, kabarin dia dulu.”</p>

<p>“Oh, kita nggak nyamperin ke rumahnya, Dew?”</p>

<p>“Dia nyuruh buat nunggu di sini aja, biar saya nggak repot keluar masuknya juga katanya,” jelas Sadewa.</p>

<p>Arjuna mengamati keadaan di sekitarnya. Tempat di mana ia berada sekarang cukup sepi, mungkin memang jarang dilalui oleh kendaraan karena lokasinya yang jauh dari jalan raya. Di warung kopi seberang jalan, beberapa pemuda terlihat tengah berkumpul.</p>

<p>“<em>Shit</em>,” desis Arjuna saat salah satu dari para lelaki yang tampak menyeramkan itu bangkit dan berjalan mendekati mereka kemudian mengetuk kaca mobil.</p>

<p><em>Astaga, apa dia preman daerah sini? Apa kita akan dapat masalah</em>? Arjuna membatin.</p>

<p>Sadewa membuka pintu lalu turun dari mobilnya.</p>

<p>“Halo, Bima,” sapa Nakula.</p>

<p>“Oi, Mas Kula.” Laki-laki dengan rambut yang dicat ungu itu melirik Arjuna dan menganggukkan kepala, yang dibalas Arjuna dengan canggung. “Mau ke mana ini, Mas Dewa, kok rombongan?”</p>

<p>“Hahaha ... mau nganter Yudis kompetisi,” jawab Sadewa santai.</p>

<p>“Serius? Parah, nggak bilang-bilang dia kalo mau ikut lomba lagi. Nah, itu anaknya. Woy, Yudis!”</p>

<p>Seseorang dengan papan luncur di tangannya menghampiri mereka setengah berlari. “Halo, halo, semua.” Sang pemuda mengedikkan bahu untuk membetulkan letak ranselnya.</p>

<p>“Kok lu nggak bilang sih kalo ada kompetisi?” tanya Bima.</p>

<p>“Sengaja, kalo aku bilang nanti kau maksa ngasih aku duit buat pendaftarannya lagi. Nggak enak aku,” Yudistira beralasan.</p>

<p>“Elah, kayak ke siapa aja lu, Yud.”</p>

<p><em>Jadi ini penampakan Yudistira yang Sadewa sebut sebagai salah satu teman baiknya</em>.</p>

<p>Berdiri bersebelahan dengan prem—eh, siapa tadi namanya? Bima?—Yudistira terlihat mungil. Parasnya manis, apalagi saat dia tersenyum menanggapi ucapan Bima. Rambut hitam dengan sedikit warna hijau menjuntai dari balik topi yang dipakainya.</p>

<p>Arjuna tak sadar jika sedari tadi matanya terus tertuju pada Yudistira, hingga ia mendengar Bima terbatuk. Dilihatnya lelaki itu menyenggol lengan si <em>skater</em> sebelum memiringkan kepala ke arah Arjuna, membuat Yudistira menoleh padanya.</p>

<p><em>Sial</em>.</p>

<p>Arjuna cepat-cepat berpaling ke arah lain.</p>

<p>“Ayo berangkat sekarang, takut macet,” ajak Sadewa.</p>

<p>“Eh, eh, gue ikut dong, Mas!”</p>

<p>“Ngapain, Bim?”</p>

<p>“Ya mau nonton Yudis, masa <em>partner in crime</em> gue tanding gue nggak kasih <em>support</em>? Gue ikut pokoknya.”</p>

<p>Sadewa menatap kursi belakang, Yudistira, dan Bima bergantian. “Kayaknya nggak muat ....”</p>

<p>“Mas Kula duduk di belakang, gue di depan.”</p>

<p>“<em>Emoh</em>,” tolak Nakula cepat.</p>

<p>“Mas Dewa pindah belakang, gue yang nyetir,” Bima kembali memberi usul.</p>

<p>“Mending aku naik bus, lebih aman,” komentar Yudistira.</p>

<p>“Disopirin kamu bisa-bisa kita malah mampir ke rumah sakit,” Sadewa menambahkan.</p>

<p>“Ih, kok kalian jahat sama gue? Kenapa gue nggak boleh ikut main bareng? Bukan bagian <em>circle</em>-kah gue?” Bima mengalihkan pandangannya pada Yudistira. “Yud ...,” panggilnya dengan nada memelas.</p>

<p>Arjuna tidak menyangka jika laki-laki berpostur tinggi besar layaknya <em>bodyguard</em> itu ternyata tingkahnya menggemaskan seperti anak kecil.</p>

<p>“Ya udah, kau duduk di kursi belakang sana. Yudis sini <em>tak</em> pangku.” Nakula menepuk-nepuk pahanya.</p>

<p>“Dicegat polisi nanti, Nakula.” Yudistira tertawa kecil.</p>

<p><em>Ah, kenapa suara tawanya imut sekali? Rasanya ingin dengar berulang kali</em>.</p>

<p>Arjuna berkedip. Apa yang dia pikirkan? Ini pasti gara-gara mi instan kadaluarsa yang dimakannya pagi tadi, otaknya jadi sedikit aneh.</p>

<p>“Mas Dewa, ikut.” Rupanya Bima masih belum menyerah.</p>

<p>Sadewa menghela napas. “Yud, simpen tas sama <em>skateboard</em> kamu di bagasi. Bima boleh ikut, tapi kalo banyak ngeluh saya turunin di tengah jalan.”</p>

<p>“Siap, Mas, hehe .... Sini, Yud, biar gue yang masukin bagasi.” Bima mengambil ransel serta papan luncur milik Yudistira kemudian mengikuti Sadewa ke bagian belakang mobil.</p>

<p>Arjuna nyaris berteriak kaget ketika tiba-tiba Yudistira melompat masuk lalu duduk di sebelahnya. Perlahan ia menoleh, dan sedetik kemudian mengumpat dalam hati.</p>

<p>Karena Yudistira tengah menatapnya. Karena kini Arjuna beradu pandang dengan sepasang mata terindah yang pernah ia lihat selama hidupnya. Karena Yudistira telah melepas topinya dan Arjuna menemukan sebuah tindikan menghiasi alis kanan pemuda itu.</p>

<p>Arjuna menelan ludah.</p>

<p>“Yudistira,” ujar Yudistira dengan suara pelan.</p>

<p>“Hah?” hanya itu yang keluar dari mulut Arjuna.</p>

<p>“Panggil Yudis boleh, Tira boleh, terserah kau aja.”</p>

<p>“Oh, um ... A-Arjuna,” balas Arjuna terbata sambil menjabat tangan Yudistira yang terulur.</p>

<p>“A-Arjuna? Berarti panggil A&#39;a boleh?”</p>

<p>Arjuna bisa mendengar suara Nakula yang mencoba menahan tawa.</p>

<p>Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan Yudistira, napasnya seakan terhenti sewaktu pemuda yang lebih kecil itu terdorong hingga setengah tubuhnya berada di pangkuan Arjuna.</p>

<p>“Geser, Yud, biar gue kebagian tempat.” Bima yang baru saja masuk berusaha menutup pintu mobil, tanpa memperhitungkan jika gerakannya membuat Yudistira makin terhimpit.</p>

<p>“Biiim, aku lho ini kejepit,” protes Yudistira.</p>

<p>Arjuna ingin beringsut menjauh, tetapi tubuhnya sudah benar-benar menempel dengan pintu. Alhasil, ia hanya bisa duduk dengan kaku, tidak berani bergerak.</p>

<p>“Ih, gue juga susah ini. Lagian Mas Dewa punya mobil kecil banget, gue rendem di minyak tanah juga nih biar melar.”</p>

<p>“Bim, tadi saya bilang apa kalau kamu ngeluh?”</p>

<p>“Iya, Mas, nggak ngeluh kok, nggak.” Bima segera bergeser sehingga Yudistira bisa mendapat lebih banyak ruang.</p>

<p>“Jangan ribut lagi ya, kita berangkat.” Sadewa mengemudikan kendaraannya meninggalkan tempat itu.</p>

<p>Yudistira membetulkan posisi duduknya. “Maaf ya, A&#39;a.”</p>

<p>Baru saja sedikit rileks, Arjuna kembali menegang. “E-eh, jangan panggil gitu.”</p>

<p>“A&#39;a? Kok A&#39;a?” Bima yang mendengar Yudistira bertanya ingin tahu.</p>

<p>“Namanya A-Arjuna katanya,” sahut Yudistira.</p>

<p>“Oh. Kenalin, &#39;A, gue Bima.”</p>

<p>“Bukaaan, Arjuna aja, Arjuna,” Arjuna meralat.</p>

<p>“Jadi nggak boleh panggil A&#39;a?” Raut wajah Yudistira berubah muram.</p>

<p><em>Tuhan, cobaan apa lagi ini</em>?</p>

<p>“B-boleh. Kalo lu, boleh,” kalimat terakhir diucapkan Arjuna nyaris tak terdengar, tapi Yudistira bisa menangkapnya. Ia tersenyum dan mengangguk.</p>

<p>“Tapi ya, Dew, kau kayaknya emang harus ganti mobil yang lebih besar deh,” Nakula bersuara. “Jadi kita bisa sering pergi ramean, piknik ke mana gitu, seru kayaknya.”</p>

<p>“Nah kan, apa gue bilang.”</p>

<p>“Ya, nanti, nunggu dapet hadiah mancing,” jawab Sadewa sekenanya.</p>

<p>“Halah, mancing, kau itu cuma jago mancing <em>perkoro</em>.”</p>

<p>Yudistira dan Bima tergelak. Tubuh bongsor Bima lagi-lagi mendorong Yudistira menempel pada Arjuna, hanya saja kali ini, meski Bima telah kembali duduk dengan benar, Yudistira tidak menjauh ataupun menarik tangannya yang berada di atas paha Arjuna.</p>

<p>Walau sepertinya perjalanan ini akan memakan waktu lama, Arjuna sama sekali tidak keberatan.</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/sunnote</guid>
      <pubDate>Mon, 27 Apr 2026 02:00:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>🔍🎵 | LensNote</title>
      <link>https://tequilovve.writeas.com/lensnote?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  🔍🎵 | LensNote&#xA;&#xA;Langkah Yudistira terhenti sewaktu melihat sosok yang tidak asing bersandar pada sebatang pohon di seberang rumahnya. Mata indahnya mengerjap, bibirnya membentuk senyuman lebar.&#xA;&#xA;“Mas Nakula!”&#xA;&#xA;Namun senyum itu perlahan memudar ketika Nakula tetap diam di tempatnya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. Dengan bibir mengerucut, Yudistira akhirnya berjalan mendekat, tas gitar yang tersampir di bahu bergoyang mengikuti irama langkahnya.&#xA;&#xA;Saat ia sudah berdiri di hadapan Nakula, barulah pemuda bersurai biru itu mengeluarkan suara, “Hai, Yudis.”&#xA;&#xA;“‘Hai, Yudis?’”!--more-- Yudistira menatapnya kesal. “Mas di luar kota tiga minggu, lho. Tiap hari aku mikirin mas, meski jarang dapet kabar tapi aku sabar-sabarin, soalnya aku paham mas sibuk.”&#xA;&#xA;“Sekarang tau-tau mas ada di sini, tapi waktu liat aku cuma bilang, ‘Hai, Yudis.’ Mas apa nggak kangen? Kalo gitu ngapain mas dateng? Mau nungguin tukang siomay langganan atau ma—eh!” Yudistira terkesiap karena tiba-tiba Nakula menarik dan memeluk tubuhnya.&#xA;&#xA;“Kamu itu, gemesin pol kalo udah ngomel-ngomel, mas jadi seneng jailinnya.” Lelaki yang lebih tua terkekeh. “I miss you. Kangen banget sama Yudistira-ku, Cah Ayu-ku. Makasih udah sabar nunggu mas, ya.”&#xA;&#xA;“Mmm.” Yudistira mengangguk kecil. “Welcome home, Mas,” bisiknya sesaat kemudian.&#xA;&#xA;Nakula merengkuh tubuh mungil kesayangannya lebih erat.&#xA;&#xA;Yeah, I&#39;m home.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align: center; width: 100%;&#34;***/div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>🔍🎵 | LensNote</p></blockquote>

<p>Langkah Yudistira terhenti sewaktu melihat sosok yang tidak asing bersandar pada sebatang pohon di seberang rumahnya. Mata indahnya mengerjap, bibirnya membentuk senyuman lebar.</p>

<p>“Mas Nakula!”</p>

<p>Namun senyum itu perlahan memudar ketika Nakula tetap diam di tempatnya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. Dengan bibir mengerucut, Yudistira akhirnya berjalan mendekat, tas gitar yang tersampir di bahu bergoyang mengikuti irama langkahnya.</p>

<p>Saat ia sudah berdiri di hadapan Nakula, barulah pemuda bersurai biru itu mengeluarkan suara, “Hai, Yudis.”</p>

<p>“‘Hai, Yudis?’” Yudistira menatapnya kesal. “Mas di luar kota tiga minggu, lho. Tiap hari aku mikirin mas, meski jarang dapet kabar tapi aku sabar-sabarin, soalnya aku paham mas sibuk.”</p>

<p>“Sekarang tau-tau mas ada di sini, tapi waktu liat aku cuma bilang, ‘Hai, Yudis.’ Mas apa nggak kangen? Kalo gitu ngapain mas dateng? Mau nungguin tukang siomay langganan atau ma—eh!” Yudistira terkesiap karena tiba-tiba Nakula menarik dan memeluk tubuhnya.</p>

<p>“Kamu itu, gemesin <em>pol</em> kalo udah ngomel-ngomel, mas jadi seneng jailinnya.” Lelaki yang lebih tua terkekeh. “<em>I miss you</em>. Kangen banget sama Yudistira-ku, Cah Ayu-ku. Makasih udah sabar nunggu mas, ya.”</p>

<p>“Mmm.” Yudistira mengangguk kecil. “<em>Welcome home</em>, Mas,” bisiknya sesaat kemudian.</p>

<p>Nakula merengkuh tubuh mungil kesayangannya lebih erat.</p>

<p><em>Yeah, I&#39;m home</em>.</p>

<div style="text-align: center; width: 100%;">***</div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://tequilovve.writeas.com/lensnote</guid>
      <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 03:15:09 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>