đź‘˝ | Bambang x OFC
Kirana mengetuk pintu yang setengah terbuka, melambaikan tangan saat sang pemilik kamar yang sedang berjongkok di depan lemari pakaian menoleh ke arahnya.
“Hei, Ran. Masuk sini.”
Perempuan berambut sebahu itu menurut. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. “Packing?” tanyanya melihat koper yang hampir terisi penuh.
“Iya, biar santai, kalo buru-buru takut ada yang ketinggalan.”
“Bawa underwear ekstra, Bam, buat jaga-jaga.”
Bambang—si pemuda, tertawa. “Don't worry, kalo semua kotor, I can just go commando.”
Kirana memutar bola matanya malas. “Berangkatnya tetep lusa, kan? Nggak ada perubahan?”
“Yup, keretanya jam setengah enam.”
“Pagi banget.”
“Kenapa? Mau nganter?” Bambang menyelipkan sepasang kaos kaki ke dalam kopernya.
“Tadinya iya, tapi kayaknya jam segitu aku belum bangun.”
“Nginep sini, nanti aku bangunin.”
“Liat besok aja,” jawab Kirana singkat.
Untuk beberapa saat percakapan mereka terhenti. Kirana asik dengan ponselnya, hingga Bambang bangkit kemudian ikut berbaring di samping gadis itu.
Kirana mengalihkan perhatian dari video pendek yang ditontonnya. “Udah beres?”
“Udah, besok tinggal cek ulang.” Bambang menatap Kirana dan tersenyum. “Aku cuma pergi dua minggu, sebelum kamu sempet kangen juga aku udah ada di sini lagi, nggak usah sedih gitu.”
“Siapa yang sedih? Aku cuma mikirin kalo nanti putingku sakit gara-gara PMS, siapa yang bakal massage, jilatin, sama ngisepin biar nggak sakit lagi?”
Mata Bambang membulat. “Sialan,” ujarnya saat Kirana terkekeh. “Di kepalaku langsung muncul visualisasinya, lagi.”
“Mesum.”
“Emang kamu nggak?” balas Bambang. “Eh, Ran, jangan cari orang lain buat ngilangin sakitnya ya.”
“Ngapain? Buang-buang waktu. Belum tentu lebih enak dari kamu juga ngasih treatment-nya.”
“Betul.” Bambang mengangguk puas. “Cuma aku yang bisa, nggak ada yang boleh ambil alih tugasku. Udah akrab banget aku tuh sama mereka.”
Kirana mengernyit bingung. “Mereka? Siapa?”
“Mereka.” Pandangan Bambang tertuju pada payudara sintal Kirana. “Aku udah tau sampe ke detail-detailnya, bentuk boobs kamu udah melekat di otakku.”
“Anjing,” umpat Kirana, diikuti tawa Bambang.
“Mulutmu, Ran.”
“Kenapa? Mau cipok?”
“Mau.” Bambang mengeluarkan tatapan memelas dan mendekatkan wajahnya. “Mau nenen juga, boleh?”
“Nggak!” Kirana mendorong kening Bambang dengan telunjuknya. “Nanti aja, kalo lagi bantuin aku bulan depan.”
“Ah, sedih. Kamu nggak bisa apa, menstruasinya seminggu sekali?”
Tak butuh waktu lama, telapak tangan Kirana mendarat cukup keras di pelipis Bambang. “Kamu aja sana yang menstruasi, biar tau gimana rasanya! Seenaknya aja kalo ngomong!”
“Iya, iya, ampun ... cuma bercanda, Ran, nggak lagi-lagiii!”