“Bim, apa masih lama? Kita udah di sini berjam-jam.”
“Sebentar lagi, Yud. Tadi bukannya kamu sendiri yang pengen ikut?” Bima melirik Yudistira sebelum kembali menekuni buku sketsanya.
“Iya, soalnya aku suka nemenin kamu ngelukis, tapi ini udah mulai mendung, kita pulang aja.” Setelah memasukkan sisa makanan ke dalam tas bekal yang ia bawa, Yudistira beranjak mendekati Bima yang tengah duduk bersandar pada sebatang pohon.
Sebelum Yudistira sempat mengintip, Bima menutup bukunya dengan cepat. “Oke, ayo kita pulang.”
“Biiim.” Yudistira cemberut. “Aku mau lihat dulu apa yang kamu gambar.”
Apartemen yang dikunjungi Yudistira siang itu tampak kosong, namun ia tahu pasti di mana orang yang dicarinya berada. Sambil bersenandung kecil, ia berjalan dengan santai menuju ke salah satu ruangan. Tanpa mengetuk lebih dulu, pemuda itu membuka pintu. “Halooo!” serunya riang.
“Shibal sekk—” Eray memutar kursi yang didudukinya, menatap Yudistira dengan mata membulat. “Yudis ... astaga, ngagetin aja. Pintu itu diciptakan untuk diketuk, Manisku.”
“Salah, pintu itu diciptakan untuk dibuka. Lagian kalo aku langsung masuk, kan kau bisa terciduk kalo lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh.” Yudistira menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Eray kemudian mencium pipi lelaki yang lebih tua.
“Hal aneh apa? Nggak mungkin lah.” Secara otomatis kedua tangan Eray melingkar di pinggang Yudistira, menahannya agar tidak jatuh. Tersenyum, ia menatap paras cantik itu. “Tumben dateng ke sini? Tau ya kalo aku lagi kangen?”
Bima berjalan tertatih menuju rumah kontrakannya. Terdiam sejenak di depan pintu, ia menghirup oksigen dalam-dalam, menegakkan tubuhnya, lalu melangkah masuk.
Keadaan di dalam rumah tampak remang-remang, sumber cahaya hanya berasal dari lampu redup yang ada di ruang tengah. Setelah mengunci pintu, Bima melepaskan ransel dan membuka jaket tebalnya sembari berjalan menuju ke kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.
Dahinya berkerut melihat lampu di kamarnya ternyata masih menyala. Perlahan laki-laki bertubuh menjulang itu membuka pintu. “Yud?” panggilnya setengah berbisik.
Tidak mendengar jawaban apapun, Bima membuka pintu lebih lebar kemudian melangkah ke dalam. “Oh.” Ia menemukan seseorang di sudut ruangan, duduk di kursi dengan kedua tangan yang dilipat di atas meja sebagai pengganti bantal untuk kepalanya.
Harris memeriksa ponselnya untuk kesekian kali. Menghela napas, ia kembali menyimpan gawai itu ke dalam saku jaket sebelum meneguk minumannya.
“Masih belum ada kabar dari Morgan?” tanya Bambang yang sedari tadi memperhatikan tingkah Harris.
Lelaki bersurai merah itu menggeleng dengan raut wajah muram. “Aku tau dia sibuk, tapi aku masih berharap paling nggak dia chat aku.”
“Jujur, aku nggak yakin dia inget kalo hari ini kamu ulang tahun, Ris,” ujar Bambang hati-hati.
“Aku rasa kamu bener ....”
“Hei, jangan pasang muka sedih gitu. Ini hari ulang tahun kamu, kita ada di sini buat seneng-seneng. Come, let's dance.” Bambang menarik tangan Harris, mengajaknya ke lantai dansa.
“Kak Juna? Tumben nggak ngabarin dulu kalo mau ke sini,” komentar Aya saat melihat kakaknya datang berkunjung.
“Sadew sama Nakul ke shopping mall, duo bontot pengen ikut. Gua males jalan-jalan tapi nggak mau sendirian di rumah.” Arjuna menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Nah, kebetulan! Bantuin kita aja, Bang Juned!” seru Naia yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
“Bantuin apa?”
“Ngepet.”
Jika saja Arjuna memiliki cukup energi, ia pasti sudah melempar dukun jadi-jadian kesayangan adiknya itu dengan bantalan kursi.
“Orang waras mana yang ngepet siang-siang?” Laki-laki itu terdiam sejenak. “Ralat, orang waras nggak ada yang ngepet.”
Kirana mengetuk pintu yang setengah terbuka, melambaikan tangan saat sang pemilik kamar yang sedang berjongkok di depan lemari pakaian menoleh ke arahnya.
“Hei, Ran. Masuk sini.”
Perempuan berambut sebahu itu menurut. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. “Packing?” tanyanya melihat koper yang hampir terisi penuh.
“Iya, biar santai, kalo buru-buru takut ada yang ketinggalan.”
“Bawa underwear ekstra, Bam, buat jaga-jaga.”
Bambang—si pemuda, tertawa. “Don't worry, kalo semua kotor, I can just go commando.”
Yudistira tersentak ketika pintu kamarnya dibuka dengan cukup keras, disusul seorang laki-laki yang muncul dengan napas terengah, rambut berantakan, dan juga pakaian yang sedikit kusut.
Tanpa memberi Yudistira kesempatan untuk menghilangkan rasa terkejutnya, pemuda itu melangkah masuk dengan langkah lebar, menghampiri Yudistira yang sedang duduk di tempat tidur kemudian memeluknya erat.
“Bim?”
“Diem dulu, sebentar aja,” pinta Bima, napasnya yang tak beraturan menggelitik leher Yudistira.
“Lama juga nggak apa-apa, tapi pindah dulu, biar posisi kau lebih nyaman.” Yudistira melempar komik di tangannya ke nakas lalu membantu Bima agar duduk di sampingnya.
Arjuna mendengus kemudian membuang pandangannya ke luar jendela. Ia mulai menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Nakula untuk menemaninya hari ini.
“Kenapa, Jun?” Sadewa yang sedang menyetir menatap Arjuna sekilas melalui spion mobilnya.
“Nggak apa-apa.”
Nakula yang duduk di samping Sadewa menoleh, memutar tubuhnya agar dapat melihat Arjuna dengan jelas. “Beneran nggak apa-apa? Nggak mabuk darat, kan? Kau mual?”
“Iya, mual gara-gara kalian. Tolong ya PDA-nya dikontrol, dari kursi belakang keliatan jelas banget ini,” Arjuna bersungut-sungut. “Kalo kita kecelakaan gara-gara Si Sadew nggak konsen nyetir, gimana?”
Nakula dan Sadewa kompak terbahak. “Maaf, maaf. Aduh, lupa kalo ada penumpang di belakang,” goda Nakula, membuat Arjuna semakin kesal.
Langkah Yudistira terhenti sewaktu melihat sosok yang tidak asing bersandar pada sebatang pohon di seberang rumahnya. Mata indahnya mengerjap, bibirnya membentuk senyuman lebar.
“Mas Nakula!”
Namun senyum itu perlahan memudar ketika Nakula tetap diam di tempatnya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. Dengan bibir mengerucut, Yudistira akhirnya berjalan mendekat, tas gitar yang tersampir di bahu bergoyang mengikuti irama langkahnya.
Saat ia sudah berdiri di hadapan Nakula, barulah pemuda bersurai biru itu mengeluarkan suara, “Hai, Yudis.”