☀️🎵 | SunNote

Arjuna mendengus kemudian membuang pandangannya ke luar jendela. Ia mulai menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Nakula untuk menemaninya hari ini.

“Kenapa, Jun?” Sadewa yang sedang menyetir menatap Arjuna sekilas melalui spion mobilnya.

“Nggak apa-apa.”

Nakula yang duduk di samping Sadewa menoleh, memutar tubuhnya agar dapat melihat Arjuna dengan jelas. “Beneran nggak apa-apa? Nggak mabuk darat, kan? Kau mual?”

“Iya, mual gara-gara kalian. Tolong ya PDA-nya dikontrol, dari kursi belakang keliatan jelas banget ini,” Arjuna bersungut-sungut. “Kalo kita kecelakaan gara-gara Si Sadew nggak konsen nyetir, gimana?”

Nakula dan Sadewa kompak terbahak. “Maaf, maaf. Aduh, lupa kalo ada penumpang di belakang,” goda Nakula, membuat Arjuna semakin kesal.

“Ternyata bener, jangan suka berduaan, nanti yang ketiganya iblis dari Utara,” Sadewa menimpali ucapan kekasihnya.

“Turunin gua di sini aja dah, gua mau pulang.” Arjuna berpura-pura akan membuka pintu mobil. Dalam hati ia tertawa saat kedua orang yang duduk di depannya langsung terlihat panik.

“Eh, jangan, Jun! Iya, kita nggak godain kau lagi. Duduk, duduk!” seru Nakula sembari mengibas-ngibaskan tangannya, meminta Arjuna untuk tenang. “Kau sih, Dew.”

“Lah, kok saya?”

“Ya memang salahmu. Aku cantik dan baik hati gini, masa salahku?”

“Malas. Sedikit lagi nyampe nih.” Tak lama Sadewa memarkir mobilnya di depan sebuah gang. Ia lantas mengambil ponselnya. “Sebentar, kabarin dia dulu.”

“Oh, kita nggak nyamperin ke rumahnya, Dew?”

“Dia nyuruh buat nunggu di sini aja, biar saya nggak repot keluar masuknya juga katanya,” jelas Sadewa.

Arjuna mengamati keadaan di sekitarnya. Tempat di mana ia berada sekarang cukup sepi, mungkin memang jarang dilalui oleh kendaraan karena lokasinya yang jauh dari jalan raya. Di warung kopi seberang jalan, beberapa pemuda terlihat tengah berkumpul.

Shit,” desis Arjuna saat salah satu dari para lelaki yang tampak menyeramkan itu bangkit dan berjalan mendekati mereka kemudian mengetuk kaca mobil.

Astaga, apa dia preman daerah sini? Apa kita akan dapat masalah? Arjuna membatin.

Sadewa membuka pintu lalu turun dari mobilnya.

“Halo, Bima,” sapa Nakula.

“Oi, Mas Kula.” Laki-laki dengan rambut yang dicat ungu itu melirik Arjuna dan menganggukkan kepala, yang dibalas Arjuna dengan canggung. “Mau ke mana ini, Mas Dewa, kok rombongan?”

“Hahaha ... mau nganter Yudis kompetisi,” jawab Sadewa santai.

“Serius? Parah, nggak bilang-bilang dia kalo mau ikut lomba lagi. Nah, itu anaknya. Woy, Yudis!”

Seseorang dengan papan luncur di tangannya menghampiri mereka setengah berlari. “Halo, halo, semua.” Sang pemuda mengedikkan bahu untuk membetulkan letak ranselnya.

“Kok lu nggak bilang sih kalo ada kompetisi?” tanya Bima.

“Sengaja, kalo aku bilang nanti kau maksa ngasih aku duit buat pendaftarannya lagi. Nggak enak aku,” Yudistira beralasan.

“Elah, kayak ke siapa aja lu, Yud.”

Jadi ini penampakan Yudistira yang Sadewa sebut sebagai salah satu teman baiknya.

Berdiri bersebelahan dengan prem—eh, siapa tadi namanya? Bima?—Yudistira terlihat mungil. Parasnya manis, apalagi saat dia tersenyum menanggapi ucapan Bima. Rambut hitam dengan sedikit warna hijau menjuntai dari balik topi yang dipakainya.

Arjuna tak sadar jika sedari tadi matanya terus tertuju pada Yudistira, hingga ia mendengar Bima terbatuk. Dilihatnya lelaki itu menyenggol lengan si skater sebelum memiringkan kepala ke arah Arjuna, membuat Yudistira menoleh padanya.

Sial.

Arjuna cepat-cepat berpaling ke arah lain.

“Ayo berangkat sekarang, takut macet,” ajak Sadewa.

“Eh, eh, gue ikut dong, Mas!”

“Ngapain, Bim?”

“Ya mau nonton Yudis, masa partner in crime gue tanding gue nggak kasih support? Gue ikut pokoknya.”

Sadewa menatap kursi belakang, Yudistira, dan Bima bergantian. “Kayaknya nggak muat ....”

“Mas Kula duduk di belakang, gue di depan.”

Emoh,” tolak Nakula cepat.

“Mas Dewa pindah belakang, gue yang nyetir,” Bima kembali memberi usul.

“Mending aku naik bus, lebih aman,” komentar Yudistira.

“Disopirin kamu bisa-bisa kita malah mampir ke rumah sakit,” Sadewa menambahkan.

“Ih, kok kalian jahat sama gue? Kenapa gue nggak boleh ikut main bareng? Bukan bagian circle-kah gue?” Bima mengalihkan pandangannya pada Yudistira. “Yud ...,” panggilnya dengan nada memelas.

Arjuna tidak menyangka jika laki-laki berpostur tinggi besar layaknya bodyguard itu ternyata tingkahnya menggemaskan seperti anak kecil.

“Ya udah, kau duduk di kursi belakang sana. Yudis sini tak pangku.” Nakula menepuk-nepuk pahanya.

“Dicegat polisi nanti, Nakula.” Yudistira tertawa kecil.

Ah, kenapa suara tawanya imut sekali? Rasanya ingin dengar berulang kali.

Arjuna berkedip. Apa yang dia pikirkan? Ini pasti gara-gara mi instan kadaluarsa yang dimakannya pagi tadi, otaknya jadi sedikit aneh.

“Mas Dewa, ikut.” Rupanya Bima masih belum menyerah.

Sadewa menghela napas. “Yud, simpen tas sama skateboard kamu di bagasi. Bima boleh ikut, tapi kalo banyak ngeluh saya turunin di tengah jalan.”

“Siap, Mas, hehe .... Sini, Yud, biar gue yang masukin bagasi.” Bima mengambil ransel serta papan luncur milik Yudistira kemudian mengikuti Sadewa ke bagian belakang mobil.

Arjuna nyaris berteriak kaget ketika tiba-tiba Yudistira melompat masuk lalu duduk di sebelahnya. Perlahan ia menoleh, dan sedetik kemudian mengumpat dalam hati.

Karena Yudistira tengah menatapnya. Karena kini Arjuna beradu pandang dengan sepasang mata terindah yang pernah ia lihat selama hidupnya. Karena Yudistira telah melepas topinya dan Arjuna menemukan sebuah tindikan menghiasi alis kanan pemuda itu.

Arjuna menelan ludah.

“Yudistira,” ujar Yudistira dengan suara pelan.

“Hah?” hanya itu yang keluar dari mulut Arjuna.

“Panggil Yudis boleh, Tira boleh, terserah kau aja.”

“Oh, um ... A-Arjuna,” balas Arjuna terbata sambil menjabat tangan Yudistira yang terulur.

“A-Arjuna? Berarti panggil A'a boleh?”

Arjuna bisa mendengar suara Nakula yang mencoba menahan tawa.

Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan Yudistira, napasnya seakan terhenti sewaktu pemuda yang lebih kecil itu terdorong hingga setengah tubuhnya berada di pangkuan Arjuna.

“Geser, Yud, biar gue kebagian tempat.” Bima yang baru saja masuk berusaha menutup pintu mobil, tanpa memperhitungkan jika gerakannya membuat Yudistira makin terhimpit.

“Biiim, aku lho ini kejepit,” protes Yudistira.

Arjuna ingin beringsut menjauh, tetapi tubuhnya sudah benar-benar menempel dengan pintu. Alhasil, ia hanya bisa duduk dengan kaku, tidak berani bergerak.

“Ih, gue juga susah ini. Lagian Mas Dewa punya mobil kecil banget, gue rendem di minyak tanah juga nih biar melar.”

“Bim, tadi saya bilang apa kalau kamu ngeluh?”

“Iya, Mas, nggak ngeluh kok, nggak.” Bima segera bergeser sehingga Yudistira bisa mendapat lebih banyak ruang.

“Jangan ribut lagi ya, kita berangkat.” Sadewa mengemudikan kendaraannya meninggalkan tempat itu.

Yudistira membetulkan posisi duduknya. “Maaf ya, A'a.”

Baru saja sedikit rileks, Arjuna kembali menegang. “E-eh, jangan panggil gitu.”

“A'a? Kok A'a?” Bima yang mendengar Yudistira bertanya ingin tahu.

“Namanya A-Arjuna katanya,” sahut Yudistira.

“Oh. Kenalin, 'A, gue Bima.”

“Bukaaan, Arjuna aja, Arjuna,” Arjuna meralat.

“Jadi nggak boleh panggil A'a?” Raut wajah Yudistira berubah muram.

Tuhan, cobaan apa lagi ini?

“B-boleh. Kalo lu, boleh,” kalimat terakhir diucapkan Arjuna nyaris tak terdengar, tapi Yudistira bisa menangkapnya. Ia tersenyum dan mengangguk.

“Tapi ya, Dew, kau kayaknya emang harus ganti mobil yang lebih besar deh,” Nakula bersuara. “Jadi kita bisa sering pergi ramean, piknik ke mana gitu, seru kayaknya.”

“Nah kan, apa gue bilang.”

“Ya, nanti, nunggu dapet hadiah mancing,” jawab Sadewa sekenanya.

“Halah, mancing, kau itu cuma jago mancing perkoro.”

Yudistira dan Bima tergelak. Tubuh bongsor Bima lagi-lagi mendorong Yudistira menempel pada Arjuna, hanya saja kali ini, meski Bima telah kembali duduk dengan benar, Yudistira tidak menjauh ataupun menarik tangannya yang berada di atas paha Arjuna.

Walau sepertinya perjalanan ini akan memakan waktu lama, Arjuna sama sekali tidak keberatan.

***