✨🎵 | SparkNote

Apartemen yang dikunjungi Yudistira siang itu tampak kosong, namun ia tahu pasti di mana orang yang dicarinya berada. Sambil bersenandung kecil, ia berjalan dengan santai menuju ke salah satu ruangan. Tanpa mengetuk lebih dulu, pemuda itu membuka pintu. “Halooo!” serunya riang.

Shibal sekk—” Eray memutar kursi yang didudukinya, menatap Yudistira dengan mata membulat. “Yudis ... astaga, ngagetin aja. Pintu itu diciptakan untuk diketuk, Manisku.”

“Salah, pintu itu diciptakan untuk dibuka. Lagian kalo aku langsung masuk, kan kau bisa terciduk kalo lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh.” Yudistira menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Eray kemudian mencium pipi lelaki yang lebih tua.

“Hal aneh apa? Nggak mungkin lah.” Secara otomatis kedua tangan Eray melingkar di pinggang Yudistira, menahannya agar tidak jatuh. Tersenyum, ia menatap paras cantik itu. “Tumben dateng ke sini? Tau ya kalo aku lagi kangen?”

“Bohong, kangen apa? Mana ada kangen tapi nggak nemuin aku? Malah aku yang nyamperin,” protes Yudistira.

Sepertinya di mata Eray, Yudistira semakin terlihat memikat ketika cemberut begitu, karena ia hanya terkekeh dan memeluk pinggang ramping sang kekasih lebih erat.

“Malah cengengesan, aku marah lho ini.”

“Maaf. Kerjaanku lagi banyak banget, nggak bisa ditinggal. Pengen cepet aku beresin biar bisa cepet ngabisin waktu sama kamu,” Eray coba memberi alasan mengapa dirinya tidak bisa sering menghubungi Yudistira belakangan ini.

Yudistira terdiam. Lelaki kesayangannya itu memang terlihat lelah. Perlahan ia mengusap bayangan hitam di bawah mata Eray dengan ibu jari kemudian menangkup pipinya. “Kau kurang tidur ya?”

“Hm ... mungkin?” Eray meraih tangan Yudistira, mengecup telapaknya sekilas sebelum kembali menempelkannya di pipi. “Jangan khawatir, masih aku sempetin istirahat, sesekali bangun juga, jalan-jalan ke luar sebentar, nggak stuck duduk terus-terusan di sini.”

“Nggak percaya, kau itu kalo udah kerja suka terlalu fokus. Tadi aja kau sampe nggak tau kan kalo aku dateng? Kalo yang masuk orang jahat gimana?” Yudistira mengomel lagi.

“Yang tau password apartemenku cuma kamu sama anak-anak.”

“Maling jaman sekarang kan udah canggih-canggih.”

“Ini juga maling nih.” Kali ini kecupan Eray mendarat di ujung hidung Yudistira. “Maling hatiku,” sambungnya.

Yudistira memutar bola matanya. “Malas, aku pulang aja.”

“Jangan! Belum puas melepas rindu.”

“Makin malas aku. Udah makan belum?”

“Udah, sarapan telur ceplok tadi.”

“Sarapan?” Yudistira terbelalak. “Baru sarapan? Ini udah jam dua, kau belum makan apa-apa lagi?”

“Be ... lum? Tapi aku minum banyak, jadi nggak dehidrasi, aman.”

“Aman, aman, cuma minum tapi nggak makan, kembung yang ada, emangnya kau sapi gelonggongan?” Yudistira melotot ketika Eray tergelak mendengar ucapannya. “Nggak usah ketawa, ayo makan, nanti sakit. Kerjaannya ditunda dulu sebentar, sekarang istirahat.”

“Ini lagi istirahat.” Eray menarik Yudistira lebih dekat, menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. “You're my personal charger, my mood booster, my emotional support, my my my apalah itu, pokoknya you're mine.”

Yudistira tertawa kecil. “Oke, tapi kau tetep harus makan. Ayo,” ajaknya.

“Makan kamu?”

“Makan beneran ya, Eyang Syukri!”

“Heh, apaan manggilnya gitu.” Eray menjentik kening Yudistira, tentunya tidak dengan kekuatan penuh.

“Ya abisnya kau ngeyel. Mau keluar atau pesen online?”

Online aja, kamu makan juga ya, temenin aku, kalo nggak aku nggak mau nih,” ancam Eray main-main. “Kamu yang pilih, pesen apa yang kamu suka.”

“Iya, tapi gendong ke sofa dulu,” pinta Yudistira sembari mengalungkan tangannya di leher Eray.

“Aduh, aku mau ... tapi nggak bisa, pinggang sama punggungku agak sakit gara-gara duduk dari tadi.” Eray memberi Yudistira tatapan memelas. “Kalo aku gendong takut malah kamunya jatuh dan aku salah urat.”

“Halah, emang dasar jompo. Aku lho mau manja-manjaan jadi gagal,” Yudistira bersungut-sungut.

“Maaf, Maniskuuu ....”

***