🔍🎵 | LensNote

Langkah Yudistira terhenti sewaktu melihat sosok yang tidak asing bersandar pada sebatang pohon di seberang rumahnya. Mata indahnya mengerjap, bibirnya membentuk senyuman lebar.

“Mas Nakula!”

Namun senyum itu perlahan memudar ketika Nakula tetap diam di tempatnya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. Dengan bibir mengerucut, Yudistira akhirnya berjalan mendekat, tas gitar yang tersampir di bahu bergoyang mengikuti irama langkahnya.

Saat ia sudah berdiri di hadapan Nakula, barulah pemuda bersurai biru itu mengeluarkan suara, “Hai, Yudis.”

“‘Hai, Yudis?’” Yudistira menatapnya kesal. “Mas di luar kota tiga minggu, lho. Tiap hari aku mikirin mas, meski jarang dapet kabar tapi aku sabar-sabarin, soalnya aku paham mas sibuk.”

“Sekarang tau-tau mas ada di sini, tapi waktu liat aku cuma bilang, ‘Hai, Yudis.’ Mas apa nggak kangen? Kalo gitu ngapain mas dateng? Mau nungguin tukang siomay langganan atau ma—eh!” Yudistira terkesiap karena tiba-tiba Nakula menarik dan memeluk tubuhnya.

“Kamu itu, gemesin pol kalo udah ngomel-ngomel, mas jadi seneng jailinnya.” Lelaki yang lebih tua terkekeh. “I miss you. Kangen banget sama Yudistira-ku, Cah Ayu-ku. Makasih udah sabar nunggu mas, ya.”

“Mmm.” Yudistira mengangguk kecil. “Welcome home, Mas,” bisiknya sesaat kemudian.

Nakula merengkuh tubuh mungil kesayangannya lebih erat.

Yeah, I'm home.

***