Coming Home

🌪🎵 | StormNote

Bima berjalan tertatih menuju rumah kontrakannya. Terdiam sejenak di depan pintu, ia menghirup oksigen dalam-dalam, menegakkan tubuhnya, lalu melangkah masuk.

Keadaan di dalam rumah tampak remang-remang, sumber cahaya hanya berasal dari lampu redup yang ada di ruang tengah. Setelah mengunci pintu, Bima melepaskan ransel dan membuka jaket tebalnya sembari berjalan menuju ke kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.

Dahinya berkerut melihat lampu di kamarnya ternyata masih menyala. Perlahan laki-laki bertubuh menjulang itu membuka pintu. “Yud?” panggilnya setengah berbisik.

Tidak mendengar jawaban apapun, Bima membuka pintu lebih lebar kemudian melangkah ke dalam. “Oh.” Ia menemukan seseorang di sudut ruangan, duduk di kursi dengan kedua tangan yang dilipat di atas meja sebagai pengganti bantal untuk kepalanya.

“Belajar sampe larut lagi?” gumam Bima. Jemarinya bergerak menyisir helaian surai halus milik sang pemuda. “Yud ... Yudis, bangun. Punggung sama leher kamu bisa sakit kalo tidur dengan posisi kayak gini.”

“Mmm.” Hidung Yudistira mengerut lucu sebelum matanya terbuka sedikit demi sedikit. “Bim?” Ia mengerjap. “Jam berapa ini? Aku ketiduran.”

“Hampir setengah satu. Ayo, pindah ke kasur.” Bima membantu Yudistira bangkit dari kursi dan membawanya ke tempat tidur.

“Nanti ada ujian, aku belum terlalu nguasain materinya.” Yudistira mendongak menatap Bima. “Kalo aku gagal gimana, Bim?”

“Ya nggak apa-apa, yang penting kamu udah belajar giat, udah berusaha sebaik mungkin ... tapi aku yakin kok kalo kamu pasti bisa.” Bima menepuk-nepuk kepala Yudistira. “Sekarang lanjutin tidurnya, aku mau bersih-bersih dulu.”

“Eh, kau udah makan belum? Mau aku gorengin telur atau ....”

“Udah, adek cantik,” potong Bima, terkekeh saat netranya menangkap semburat merah muda di kedua pipi Yudistira. “Aku udah makan tadi. Kamu cepet tidur, nanti malah telat nyiapin sarapan buat aku gara-gara bangun kesiangan,” gurau Bima, namun membuat Yudistira mengangguk patuh.

Setelah memastikan Yudistira berbaring dengan nyaman, Bima mengambil pakaian bersih dari dalam lemari lalu pergi ke kamar mandi. Pelan-pelan ia membuka kaus yang dikenakannya. Menatap ke cermin, lelaki yang berprofesi sebagai petugas keamanan itu menyentuh sisi sebelah kanan dadanya. Ia meringis.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. “Bim, maaf, aku kebelet pi—itu kenapa?” Mata Yudistira terbeliak melihat dada Bima yang terbalut perban.

“Nggak apa-apa, Yud.”

“Nggak apa-apa gimana? Itu ....”

“Udah sana kamu pipis dulu, nanti aku ceritain.”

Tak kuat menahan rasa ingin buang air kecil, akhirnya Yudistira menurut.


“Ada maling?” pekik Yudistira terkejut mendengar penuturan Bima ketika keduanya sudah duduk bersebelahan di tempat tidur.

“Iya, untungnya cuma sendirian, aku berhasil ngeringkus dia. Udah diserahin ke kantor polisi juga.”

“Tapi ... terus dadanya ... k-kok bisa?” ucap Yudistira terbata-bata. Sedari tadi tangannya mencengkeram lengan Bima, seolah wira kesayangannya akan menghilang jika ia lepaskan.

“Dia bawa senjata tajam, terus ngelawan. Untung pacar kamu ini muridnya Bruce Lee. Hiyah!” Bima menjawil hidungnya dengan ibu jari, bertingkah layaknya sang legenda bela diri.

“Jangan bercanda, aku gemeter ini.” Fokus Yudistira tertuju pada perban di tubuh Bima yang masih bertelanjang dada.

“Aku baik-baik aja, lagian kan udah ditanganin dokter. Kalo lukanya serius juga aku pasti nggak dibolehin pulang. Yud? Yudis, kok nangis?” Bima panik melihat tubuh Yudistira sedikit bergetar, disusul oleh air mata yang menetes membasahi pipinya.

“Aku takut ... kau bilang kau nggak apa-apa, tapi gimana kalo lain kali kau nggak seberuntung ini? Gimana kalo ... kau luka parah dan nggak ketolong? Gimana jadinya hidupku, Bim?” Yudistira semakin terisak.

“Tiap kerjaan punya risikonya sendiri, Yud. Kerjaanku juga gitu.”

“Tapi kerjaanmu risikonya terlalu besar. Abis ini aku bakal makin waswas, nggak akan bisa tenang nungguin kau pulang tiap malem.”

Tersenyum lembut, Bima merengkuh Yudistira ke dalam dekapannya, berhati-hati untuk menghindari sisi tubuhnya yang terluka. “Jangan khawatir, aku janji bakal berusaha jaga diri baik-baik dan selalu pulang buat kamu ... tapi kamu juga janji ya, kalo suatu saat sesuatu yang buruk terjadi sama aku, kamu harus tetep lanjutin hidupmu.”

“Nggak mau.”

“Yudis.”

“Nggak mau,” ulang Yudistira ditambah dengan gelengan kepala. “Aku cuma punya kamu, aku nggak bisa kalo harus hidup sendirian tanpa kamu, aku ....”

“Yudistira.”

Laki-laki yang lebih muda terdiam.

“Untuk sekarang kita lupain dulu masalah ini. Beberapa jam lagi kamu ada ujian lho, jangan sampe kamu nggak bisa konsentrasi, atau malah nggak bisa ikutan karena telat bangun.” Bima merebahkan tubuhnya, membuat Yudistira yang masih menempel padanya ikut terbaring.

“Aku nggak perlu kerja hari ini, jadi nanti aku bisa jemput kamu, terus kita bisa ke tempat Mas Dewa, minta ajarin bikin kue yang kamu suka itu, tapi sekarang kita istirahat dulu ya.”

Meski raut wajahnya masih tampak sendu, Yudistira mengangguk. “Night, Bim ... Mas.”

Bima tersentak. “Eh? Yudis, bangun dulu sebentar, Yud.”

Yudistira yang baru saja terpejam kembali membuka mata.

“Nggak salah denger kan aku? Bilang apa tadi?”

“Hm?”

“Tadi, kamu panggil aku apa, coba ulang lagi,” pinta Bima.

“Ih.” Yudistira tersipu malu. “Night, Mas,” bisiknya.

“Aduh, tunggu, mana ya handphone-ku? Mau aku rekam ... ouch!

Yudistira mencubit pinggang Bima sebelum memeluknya lebih erat. “Tidur nggak?”

“Hehehe ... iya, iya, tidur. Night, adek cantik,” balas Bima sebelum mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Yudistira.

***