My Dear, My Angel
🌪🎵 | StormNote
“Bim, apa masih lama? Kita udah di sini berjam-jam.”
“Sebentar lagi, Yud. Tadi bukannya kamu sendiri yang pengen ikut?” Bima melirik Yudistira sebelum kembali menekuni buku sketsanya.
“Iya, soalnya aku suka nemenin kamu ngelukis, tapi ini udah mulai mendung, kita pulang aja.” Setelah memasukkan sisa makanan ke dalam tas bekal yang ia bawa, Yudistira beranjak mendekati Bima yang tengah duduk bersandar pada sebatang pohon.
Sebelum Yudistira sempat mengintip, Bima menutup bukunya dengan cepat. “Oke, ayo kita pulang.”
“Biiim.” Yudistira cemberut. “Aku mau lihat dulu apa yang kamu gambar.”
“Eits, jangan, aku nggak mau nanti kamu marah.”
“Kenapa aku harus marah?”
“Soalnya aku ... ngegambar seseorang yang narik perhatianku,” jawab Bima, menghindari kontak mata dengan yang lebih muda.
“Hah?” Yudistira melihat sekeliling taman tempat keduanya berada saat ini. “Yang mana? Coba aku lihat!” Ia kembali menatap Bima, mengambil buku sketsa di tangan laki-laki itu untuk mencari karya terbarunya.
Yang ditemukannya adalah seorang pemuda yang sedang duduk bersila di rumput, tersenyum dengan wajah sedikit menengadah memandang daun yang berguguran. “Lho, ini kan aku?”
“Ya iya lah, emangnya ada lagi yang narik perhatianku selain kamu?” Bima menyahut.
“Nyebelin,” ucap Yudistira. Sedikit tersipu, ia mengembalikan buku sketsa itu pada pemiliknya.
“Apa kubilang, kamu pasti marah. Nggak usah cemburu, Yud, kalian sama-sama cantik kok,” goda Bima.
“Berisik.” Yudistira memalingkan muka.
Bima tertawa. “Yud, hei.”
Yang dipanggil pura-pura tidak mendengar.
“Yudis. Yudistira, cantikku, sayangku, kue kleponku, kacang hijauku, matcha lat—”
Kali ini Yudistira menoleh. “Bisa diem nggak?”
“Bisa, tapi bantuin dulu, kelamaan duduk bikin kakiku kebas.” Bima mengulurkan tangan.
Meski menggerutu, Yudistira tetap meraih tangan Bima, berniat membantunya untuk bangun. Ia memekik ketika tiba-tiba Bima menariknya dengan cukup kuat hingga terjatuh.
Yudistira menopang tubuhnya dengan kedua lutut serta satu tangan. “Bim, pelan-pelan! Kenapa kamu nammph ....”
Tanpa menunggu kalimatnya selesai, Bima meletakkan tangannya di tengkuk Yudistira dan membawanya mendekat, mengeliminasi jarak hingga bibir mereka bertemu. Bibir Yudistira selalu terasa lembut dan manis, mencuri satu kecupan saja tidak akan membuatnya puas.
Sadar jika sedang berada di ruang publik, dengan berat hati Bima pun menyudahi ciuman mereka. Tersenyum lebar, ia berkata, “Dari dulu aku pengen ngelakuin itu, kayak di manga yang pernah aku baca.”
“You stupid giant.” Yudistira memukul lengan Bima, masih dengan semburat merah muda di kedua pipinya.
“Your stupid giant.”
“Diem.”
“Bim ... udah selesai?”
Bima menengok ke arah Yudistira. “Kamu capek? Kita balik sekarang ya. Tunggu, aku beresin ....”
“Nggak.” Yudistira menggeleng, menarik lengan sweater tipisnya hingga hanya ujung-ujung jarinya saja yang terlihat. “Nggak capek kok, aku cuma nanya aja.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Terusin gambarnya, aku mau lihat hasilnya.”
Membuka jaket yang dikenakannya, Bima memakaikannya dengan hati-hati pada Yudistira. Perbedaan ukuran tubuh keduanya yang cukup jauh membuat kekasihnya seolah tenggelam dalam balutan kulit sintetis itu. “Anginnya lumayan kenceng, jangan sampe kamu menggigil nanti.”
“Tapi kamu gimana?”
“Nggak apa-apa, aku jadi punya alasan buat meluk kamu kalo aku ngerasa kedinginan.” Bima terkekeh, mengecup puncak kepala Yudistira sebelum melanjutkan pekerjaannya.
“Apa objek lukisan kamu kali ini? Bukan aku, kan?”
“Apaan, sebelum kita nyampe ke sini aja kamu udah ngelarang aku gambar kamu.” Bima berpura-pura kesal, tapi tidak bertahan lama, karena sesaat kemudian ia mendengar Yudistira tergelak.
“Aku nggak ngerti kenapa kamu suka banget ngegambar aku, Bim.”
“Aku juga nggak ngerti kenapa kamu suka banget lihat aku ngelukis,” balas Bima.
“Soalnya ... apa ya, menyenangkan aja lihat orang yang aku suka ngelakuin hal yang dia suka, ngerti nggak?”
Berpaling dari kanvas, Bima mengalihkan seluruh perhatiannya pada Yudistira.
Ia melanjutkan, “Gimana ya jelasinnya ... tiap lihat kamu fokus ngelakuin sesuatu yang memang jadi passion-mu, ada perasaan yang susah diungkapin, rasa yang bikin aku pengen terus lihat kamu kayak gitu dan pengen nyimpen semua momen itu di ingatanku, sebanyak-banyaknya, selama-lamanya.”
“Yud,” panggil Bima, suaranya bergetar.
“Hahaha, maaf, omonganku ngelantur.” Yudistira mendongak dan menghembuskan napas panjang. “Langitnya bagus ... Bim, kapan-kapan buatin aku lukisan langit ya.”
Tertegun sejenak, Bima menghampiri Yudistira yang duduk di bangku panjang lalu berlutut di hadapannya.
“Eh?” Yudistira mengalihkan pandangannya pada lelaki itu. “Ada apa?” tanyanya kebingungan. Mata zamrudnya mengerjap.
Bima tidak menjawab. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yudistira dan membenamkan wajah di ceruk lehernya.
“Kamu mulai kedinginan ya? Kasian banget ubi unguku.” Yudistira membelai rambut Bima perlahan, membuat pelukan yang ia terima bertambah erat.
“Yudistira Yogendra, aku sayang kamu,” Bima berbisik lirih.
“Aku tau. Aku juga sayang kamu, Bima Bayusena.”
“Bim.”
Bima tersenyum kala melihat Yudistira. “Duduk di situ, Yud.” Ia menunjuk kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.
Yudistira menurut. “Ngapain di atap?”
“Hari ini cuacanya bagus. Langitnya keliatan indah, jadi aku coba lukis buat kamu, kayak yang kamu mau.”
“Beneran? Makasih banyak!” Yudistira tersenyum, matanya membentuk dua bulan sabit yang manis.
Bima terpaku, seakan terhipnotis oleh pesona sang pujaan hati.
“Aku udah pernah bilang belum sih, kalo aku ngerasa beruntung banget bisa jadi orang yang spesial buat kamu?” sambung Yudistira, nada suaranya menjadi lebih lembut. “Makasih udah milih aku. Di kehidupan berikutnya, jadiin aku pacar kamu lagi ya, Bim.”
“Yud, aku ... aku ....”
“Oi, Bim!” sebuah suara memaksa Bima menengok ke bawah. Sadewa, tetangganya, melambaikan tangan dari depan rumah. “Ngelukis lagi?” tanya lelaki yang lebih tua.
“Iya, Mas.” Bima mengangguk.
Sadewa mengacungkan jempolnya. “Bikin gambar yang bagus. Oh, kalau ada yang nyari, bilang saya lagi pergi mancing dulu ya,” pesannya sebelum menjauh.
Saat Bima menoleh kembali pada Yudistira, ia tak menemukan sosoknya lagi di sana. Yang ada hanya sebuah kotak, tergeletak di kursi yang sebelumnya Yudistira tempati.
“Ah.” Terdiam sebentar, Bima menarik napas dalam-dalam kemudian mengambil kuasnya. “Oke, aku bakal nyelesaiin ini.”
Beberapa jam berlalu. Bima menatap hasil karyanya dengan puas. “Udah selesai. Kamu suka nggak, Yud?” Ia mendongak, merasakan hembusan angin menerpa rambut ungunya.
Dengan pelan laki-laki itu berjalan untuk mengambil kotak yang ada di kursi lalu membukanya.
Sebuah pena serta botol tinta pemberian Yudistira beberapa tahun yang lalu. Hadiah pertama dari sang kekasih, jauh sebelum dirinya menjadi ilustrator seperti sekarang.
Air mata meluncur turun membasahi pipi Bima, namun bibirnya membentuk seulas senyum. “I miss you ... ada banyak hal yang pengen aku sampein sama kamu, Yud. Kamu suka lihat aku ngelukis, kan? Aku sengaja ngelukis di sini, biar kamu bisa lihat aku dari atas sana.” Bima kembali memandang ke langit.
“Meski aku nggak bisa ngomong sama kamu secara langsung, aku yakin kamu tau apa yang aku rasain. Aku nggak akan berhenti mencintai kamu, Yud, selamanya.”
Dengan pena di tangan, Bima menuliskan sebaris kalimat di sudut bawah lukisan langitnya.
For an angel with emerald eyes ... see you in another life.