🥃🔍 | BeerLens
“Kak Juna? Tumben nggak ngabarin dulu kalo mau ke sini,” komentar Aya saat melihat kakaknya datang berkunjung.
“Sadew sama Nakul ke shopping mall, duo bontot pengen ikut. Gua males jalan-jalan tapi nggak mau sendirian di rumah.” Arjuna menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Nah, kebetulan! Bantuin kita aja, Bang Juned!” seru Naia yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
“Bantuin apa?”
“Ngepet.”
Jika saja Arjuna memiliki cukup energi, ia pasti sudah melempar dukun jadi-jadian kesayangan adiknya itu dengan bantalan kursi.
“Orang waras mana yang ngepet siang-siang?” Laki-laki itu terdiam sejenak. “Ralat, orang waras nggak ada yang ngepet.”
“Ya justru itu, biasanya orang-orang kan ngepet malem, kita siang-siang biar nggak ada saingan,” Naia beralasan. “Kurang cerdas apa coba aku?”
“Terserah lah. Aya, kandangin cewek klenik lu, gua mau numpang tidur siang, jangan diganggu.”
“Dih!”
“So prettyyy! Dew, liat ini!” Nakula menarik Sadewa agar mendekat, menunjukkan deretan kalung yang terpajang.
“Tadi niat ke sini bukannya mau cari jaket?”
“Tapi ini lucu-lucu, Dewaaa.”
Sadewa terkekeh, satu tangannya mengacak rambut Nakula.
“Eh, itu pasangan ya?”
“Nggak tau, tapi gemes, ganteng sama cantik.”
“Gemes dari mana, anjing? Itu cowok sama cowok! Gay!”
“Iya, anjir, jaman sekarang pada berani ya homoan di tempat umum, jijik liatnya. Dunia kekurangan cewek kah?”
“Najis, pengen gue ludahin rasanya.”
Ekspresi Sadewa seketika berubah. Dengan geram ia berbalik, bermaksud menghampiri orang-orang yang sedang membicarakan mereka, namun Nakula menahannya.
“Nggak usah diladenin, buang-buang waktu. Tuh, cuma kita liatin aja langsung pada mingkem, emang pengecut semua.”
“Tapi, Na ....”
Nakula menggeleng dan tersenyum. “Pilihin satu buat aku,” ucapnya, mengarahkan perhatian Sadewa kembali pada aksesoris di depan mereka.
Menarik napas panjang untuk menenangkan diri, Sadewa mengikuti kemauan lelaki cantiknya.
“Dew.”
“Hm?” Sadewa menoleh.
“Mereka bukan yang pertama dan terakhir ... kalo ada yang gitu lagi, cuekin aja, kecuali mereka nyerang kita secara fisik. Diem dulu, aku belum selesai.”
Sadewa yang sudah membuka mulut untuk bicara membatalkan niatnya.
“Aku tau kau nggak suka kalo aku dikata-katain, tapi masih banyak homophobes di muka bumi, nggak mungkin kau lawan semuanya. Lagian orang-orang di sekitar kita nerima dan support, itu udah cukup buatku,” tutur Nakula. “Jangan sampe karena belain aku, malah kau yang jadi celaka. Ya, Dew?” tambahnya, menatap langsung iris keemasan milik sang kekasih.
But I would burn the world down for you if I had to, Nakula.
“Dewa,” panggil Nakula ketika Sadewa hanya terdiam.
“Nggak janji.”
“Deeew ....”
“Yang itu bagus.” Tidak mempedulikan protes Nakula, Sadewa menunjuk satu kalung yang menurutnya menarik. “Pendant-nya unik, mermaid's tail.”
“Ih, kau tuh kalo diajak ngomong .... Kenapa pilih itu? Karena ini MerMay?”
“MerMay apaan, kocak? Saya suka, warnanya juga sama kayak mata kamu, kan?”
“Nggak, itu hijau.”
“Jangan bohong kamu.”
Nakula tertawa. “Iya, iya, kau bener.” Diambilnya kalung pilihan Sadewa. “Sek, tak bayar dulu.”
“Udah, biar saya aja.”
“Lah?”
“Nggak apa-apa. Mana sini kalungnya.”
“Aduh, jadi enak. Makasih, Dewa.” Nakula memberi senyum manisnya sebelum mengikuti langkah Sadewa ke kasir.
“Mas Kula! Mas Dewa!”
Sadewa dan Nakula yang baru saja meninggalkan toko menengok ke sumber suara.
Bima berlari menghampiri mereka dengan panik.
“Kenapa, Bim?” tanya Sadewa.
“Yudis ... Yudis hilang, Mas!”
Nakula terbelalak. “Hilang? Apa maksudnya hilang?”
“Tadi gue sama Yudis ke GimZone, terus Yudis bilang dia mau ke toilet. Gara-gara lama nggak muncul, akhirnya gue susulin, tapi di toilet nggak ada! Handphone-nya dititipin ke gue, jadi nggak bisa dihubungin,” jelas Bima.
“Oke, tenang dulu ... kita berpencar aja. Saya coba cari sekali lagi ke GimZone. Na, kamu temenin Bima, telepon saya kalau kalian udah nemuin Yudis.”
Bima dan Nakula mengangguk kemudian berjalan menjauh. Sadewa mengambil arah yang berlawanan dengan keduanya.
Tidak menemukan sosok Yudistira di arcade, Sadewa pergi menuju toilet sambil memandang sekeliling, memikirkan tempat apa saja yang mungkin didatangi si mungil.
Sekelebat warna hijau tertangkap oleh sudut matanya. Sadewa berhenti. “Pet shop?” Melangkah masuk, ia bisa mendengar suara tawa yang sangat dikenalnya. “Yudis?”
Kepala Yudistira menyembul dari balik rak mainan. “Sadew!” serunya dengan mata berbinar.
“Kamu ngapain? Bima sama Nakula nyariin, disangkanya kamu hilang.”
“Tadi abis dari toilet aku lewat sini, terus liat kucingnya abang kasir, namanya Cireng ... nama kucingnya, bukan nama abang kasirnya, kalo nama abangnya Solihin. Kata Bang Sol aku boleh ajak main Cireng sebentar,” celoteh Yudistira.
Sadewa menatap kucing berwarna putih yang berbaring terlentang sembari menendang-nendang tangan Yudistira. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponselnya.
“Y-ya, halo?” Nakula terdengar bingung.
“Na, Yudis udah ketemu.”
“Oh, syukurlah ... um ... tapi, Dew.”
“Apa?”
“Bima hilang.”
Sadewa tertegun sesaat. “Gimana?” tanyanya pelan.
“Tau-tau dia nggak ada di sebelahku, ditelepon juga nggak jawab.”
“Telepon terus, mungkin dia nggak denger. Cari di tempat komik atau toko mainan, saya sama Yudis coba cari di food court.”
“Oke.”
Sadewa menghela napas.
Just another normal day in Sadewa Sagara's life.