🌪🎵 | StormNote
“Yudis!”
Yudistira tersentak ketika pintu kamarnya dibuka dengan cukup keras, disusul seorang laki-laki yang muncul dengan napas terengah, rambut berantakan, dan juga pakaian yang sedikit kusut.
Tanpa memberi Yudistira kesempatan untuk menghilangkan rasa terkejutnya, pemuda itu melangkah masuk dengan langkah lebar, menghampiri Yudistira yang sedang duduk di tempat tidur kemudian memeluknya erat.
“Bim?”
“Diem dulu, sebentar aja,” pinta Bima, napasnya yang tak beraturan menggelitik leher Yudistira.
“Lama juga nggak apa-apa, tapi pindah dulu, biar posisi kau lebih nyaman.” Yudistira melempar komik di tangannya ke nakas lalu membantu Bima agar duduk di sampingnya.
Keduanya terdiam. Sesekali tangan Yudistira bergerak merapikan surai Bima dan mengusap punggungnya, sedangkan yang lebih tua masih setia melingkarkan lengannya di pinggang yang lebih ramping.
“Yudis,” panggil Bima beberapa lama kemudian.
Yudistira kembali memberikan usapan pelan di punggung Bima. “Hmm?”
“Yudis.”
“Aku di sini, Bim.”
Melonggarkan pelukannya, Bima mendongak menatap Yudistira. “Gue mimpi lu pergi ninggalin gue, Yud,” ujarnya sebelum menyandarkan keningnya di bahu pemuda mungil itu.
“Gue teriak-teriak manggil lu biar lu nggak pergi, biar lu balik, tapi lu nggak denger, lu terus jalan tanpa noleh lagi ke belakang. Gue pengen lari ngejar lu, tapi kaki gue rasanya kaku, nggak bisa digerakkin. Akhirnya gue cuma bisa nangis sambil tetep manggil nama lu, ngeliat lu yang makin jauh. Pas bangun ternyata gue nangis beneran,” Bima mengakhiri ceritanya dengan tarikan napas panjang.
“Itu alesannya kau keliatan berantakan pas baru nyampe tadi?”
Bima mengangguk. “Begitu bangun gue panik, nggak bisa mikir apa-apa, cuma pengen ketemu lu. Jadi gue buru-buru ke sini. Nggak lagi-lagi deh gue tidur menjelang maghrib, mimpinya jelek banget, sialan.”
Yudistira tersenyum. Sepertinya Bima sudah lebih tenang. “Udah, cuma mimpi doang, jangan dipikirin. Meski kau kadang nyebelin tapi aku sayang, Bim, mana mungkin aku ninggalin.”
“Beneran cuma mimpi, kan?”
“Cuma mimpi,” ulang Yudistira meyakinkan sahabatnya. “Kau ke sini pake apa? Kayaknya aku gak denger suara motor masuk deh.”
“Motor gue mendadak ngadat, jadi gue pake sepeda.” Bima menggeser tubuhnya lebih dekat pada Yudistira. “Kayaknya kecepatan gue tadi udah bisa ngalahin atlet.”
“Kenapa harus ngebut segala sih?”
“Ya gue kan panik, mimpinya berasa nyata banget,” Bima membela diri. “Yang ada di kepala gue cuma ‘Yudis, Yudis, harus ketemu Yudis, harus mastiin gue masih bisa liat Yudis, harus peluk kenceng-kenceng biar Yudis nggak pergi’ gitu, Yud.”
Membayangkan Bima mengayuh sepeda seperti orang kesetanan hanya untuk bertemu dengannya memberi rasa hangat di dada Yudistira. Di saat bersamaan, ia juga merutuki tingkah impulsif laki-laki itu. “Ya tapi kalo kau celaka gimana? Aku yang nangis, Bim.”
“Nggak kepikiran hehehe.” Bima mengeluarkan kekehan khasnya.
“Bima Bayusena.”
Pelukan di pinggang Yudistira bertambah erat. “Maaf, jangan marah. Eh, marah aja nggak apa-apa, yang penting lu nggak pergi, lu udah janji.”
Mata Yudistira berkilat jahil. “Kapan aku janji?”
“Tadi lu bilang nggak akan ninggalin gue!”
“Tapi kan aku nggak janji?”
“Ya udah, janji sekarang, cepet!”
“Dih, kau siapa nyuruh-nyuruh aku?”
“Yudiiis!”
“Berisik, oi! Gua kawinin juga ya lu berdua!” suara Arjuna—kakak sepupu Yudistira—terdengar dari luar kamar.
“Kita nggak mau kawin sama lu!” sahut Bima tak kalah nyaring, membuat Yudistira harus menutup telinganya.
“Maksudnya bukan gua yang kawin sama lu berdua, kocak! Auk ah, stres gua, streees!”
Bima menatap Yudistira. “Mas Juna ada masalah apa sih?”
Yudistira mengangkat bahu. “Lagi diare kali dia.”
“Ck ck, kasian, pasti gara-gara kebanyakan makan sayur.”