🥃🎵 | BeerNote
“Bodoh.”
“Diem, aku nggak butuh komentar kau. Pulang sana!” Yudistira melempar salah satu bantalnya sekuat tenaga ke arah orang yang berdiri tak jauh darinya, berdecak ketika sang target tetap bergeming.
“Ya apa namanya kalau bukan bodoh?” Memungut bantal yang dilempar Yudistira, laki-laki bernama Sadewa itu melangkah mendekat. “Lari-lari padahal nggak ada yang ngejar, kesandung kaki sendiri, terus jatuh.”
Sadewa menyimpan bantal di tangannya, menumpuknya dengan bantal lain yang digunakan Yudistira untuk bersandar.
Menyadari wajahnya dan Sadewa semakin dekat, Yudistira beringsut mundur. Ia menelan ludah saat lelaki berkulit tan itu menatapnya lekat kemudian mengelus pipinya.
“Kamu jangan ceroboh terus gitu, Cantik. Saya yang stres kalo kamu kenapa-kenapa,” ucap Sadewa pelan.
“Yudiiis, gue ... eh, maaf, gue ganggu ya? Maaf!” Tanpa menunggu respon Yudistira, Bima yang baru saja membuka pintu kamar lebih lebar segera menutupnya kembali. Terdengar suara langkah kakinya menjauh.
“Ck.” Sadewa menegakkan tubuhnya, wajahnya tampak sedikit kesal. “Mau apa dia ke sini?”
“Mau nengokin aku, kali.”
“Ngapain?”
“Ya mana aku tau, kau ngapain ke sini?” Yudistira balas bertanya. “Emang nggak boleh ada yang dateng ke sini selain kau?” Ia jadi ikut merasa kesal, entah kenapa.
“Saya ke sini soalnya saya denger kamu jatuh, saya datang karena pengen mastiin kesayangan saya baik-baik aja. Kalau alasan bocah itu sama, berarti saingan saya nambah, makin banyak aja jadinya.” Sadewa mendengus. “Sudah sore, saya pulang dulu.”
“Mas Dew.”
Sadewa tak menjawab, ia berdiri memunggungi Yudistira lalu memakai jaketnya.
“Mas Dew,” ulang Yudistira, namun tetap tidak ada tanggapan. “Sadewa budek!” kali ini nada suaranya meninggi.
Yang dipanggil terkekeh kemudian berbalik. “Saya denger, cuma seneng aja kalau kamu manggil saya kayak gitu.”
“Dipanggil budek kok seneng, aneh.”
“Bukan itu, yang sebelumnya,” ujar Sadewa lagi.
“Mas? Mas Dew, Mas Dew, Mas ....”
“Udah cukup, diem.”
“Maaas.” Yudistira mengerjapkan matanya, membuat Sadewa meremat rambutnya sendiri.
“Kamu jangan nguji pertahanan saya bisa nggak, sih? Mau saya cium apa gimana?”
“Berani lu cium-cium adek gua?” Tiba-tiba Arjuna muncul, mengarahkan tatapan tajamnya pada Sadewa sebelum menoleh ke arah adik sepupunya. “Bima ada di ruang tamu, gua suruh masuk tapi dia bilang nanti aja, soalnya lu lagi sibuk. Sibuk ngapain sama dedemit ini?”
Sadewa mengerutkan keningnya. “Dedemit?”
“Jun, berisik, cukup kakiku yang sakit, kepalaku nggak usah. Kau keluar sana, temenin Bima.” Yudistira sedikit meringis saat tak sengaja menghentakkan kakinya.
“Lah, orang Bima pengen ketemu sama lu, kok gua yang nemenin, kocak lu. Pokoknya gua suruh dia masuk.” Arjuna beranjak pergi.
“Sakit lagi?”
Kebingungan, Yudistira mengikuti arah pandangan Sadewa. Ah, kakinya. “Sedikit, tapi nggak apa-apa, beneran.”
“Ya sudah, saya pulang ya.” Sadewa kembali mendekat ke tempat tidur.
“Bukan gara-gara Juna, kan? Maaf.”
“Nggak, kan tadinya juga memang mau balik. Cepet sembuh, Cantik, besok kalau sempat saya datang lagi.”
“Masa nggak bisa nyempet-nyempetin buat aku.” Yudistira menggembungkan pipinya.
Sadewa mengacak rambut Yudistira gemas. “Iya, besok saya datang lagi.”
Keduanya bertukar senyum.
“Hati-hati, Mas Dew.”
“Hmm.” Sadewa berjalan menjauh. Senyumnya menghilang dan ekspresi wajahnya berubah datar saat berpapasan dengan Bima di depan pintu. Ia melewati pemuda itu begitu saja tanpa menyapa.
“Yudis,” panggil Bima hati-hati.
“Hei, sini, Bim.” Yudistira menyuruh Bima duduk di sisi tempat tidurnya.
“Mas Dewa serem banget, kayak yang mau makan orang. Eh, lu nggak apa-apa? Gimana kakinya? Kok bisa jatuh, sih?”
Yudistira tertawa menerima rentetan pertanyaan dari sahabatnya. “Ya namanya juga kecelakaan, musibah. Masih sakit ini, tapi paling besok juga udah baikan.”
“Lu cedera mulu, Yud, heran. Oh iya, nih gue bawain donat.” Bima menyodorkan sekotak donat di tangannya.
“Wah, makasih! Masih penuh nggak, nih? Apa udah kau makan setengahnya?” gurau Yudistira.
“Heh, ya masih utuh lah, kan gue beliin buat lu, kocak.” Bima merengut.
“Bercanda, Bim. Aku mau deh, laper. Kau makan juga ya, temenin.”
“Tapi kan ....”
“Nggak akan habis aku makan sendiri. Paling nanti kasih dua atau tiga biji buat Juna, sisanya kita makan aja berdua.”
“Ya udah kalo dipaksa, gue nggak akan nolak.” Bima tersenyum lebar.
“Siapa yang maksa?”
“Lu tadi, gue kan jadi ... apa ya ... itulah, ada pokoknya. Woy, gue mau rasa yang itu!”
“Aku duluan wleee.” Tawa Yudistira kembali lepas.
Di luar kamar, Sadewa yang sedari tadi bersandar ke dinding menghela napas panjang. Ia menoleh sekilas ke arah pintu sebelum membawa langkahnya meninggalkan tempat itu.